BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Di era
globalisasi ini, perkembangan ilmu dan teknologi sangat cepat. Sejumlah
penemuan dan inovasi memberikan kontribusi yang tinggi munculnya produk-produk
baru yang memudahkan pekerjaan manusia. Akan tetapi sangat disayangkan
kebanyakan para ilmuwan yang muncul berasal dari negeri barat yang rata-rata
bukan berasal dari kaum musalimin. Lantas dimanakah para ilmuwan muslimin itu?
Bukankah dalam islam disebutkan bahwa tiap muslim itu diwajibkan menuntut ilmu?
Apakah kaum muslimin kini menyadari bahwa kita sedang mengalami apa yang
dimaksud engan Ghozwul Fikri (Perang pemikiran)?
Jadi yang di
maksud Ghozwul Fikri-perang pemikiran disini adalah perkembangan teknologi dan
ilmu pengetahuan yang sedemikian cepat, membuat manusia terlena. Disadari atau
tidak secara tidak langsung, para kaum Nasrani dan Yahudi mengubah pola perang
mereka, dari fisik menjadi pemikiran. Melalui teknologi, saluran komunikasi,
informasi perang itu terjadi. Lihat saja berbagai situs di internet yang
terkadang kita tidak diketahui sumbernya beanr/tidak, menjadi saluran/strategi
perang pemikiran yang efektif. Lihat saja kenyataannya, tidak sedikit
situs-situs jaringan seperti Friendster, dan sebagainya menjadi rutinitas dan
hal yang utama bagi tiap remaja untuk mencari teman. Dan bila kita tidak cerdik
mengikapi perkembangan teknologi dan informasi ini, kita bisa terseret bahkan
menjadi budak teknologi. Dan tidak sedikit terjadi waktu sholat/ibadah terbuang
karena ilmu pengetahuan dan teknologi. Dan bila manusia telah jauh dari Iman,
dari islam dan Tuhannya, ilmu yang ia miliki tidak akan memberi manfaat, malah
dapat menjadi penghambat atau menimbulkan kerusakan.
Oleh sebab
itu sebagai insan cendikia yang bernafaskan islam, sudah selayaknya dalam menuntut
ilmu dan mengikuti perkembangan teknologi, hendaknya juga dilandasi oleh iman,
dan secara cerdik memanfaatkan saluran informasi dan teknologi itu untuk
menghadapi perlawanan terselubung kaum Nasrani dan Yahudi. Sudah seharusnya
kaum muslimin mengendalikan teknologi untuk kebaikan bukan menjadi budak
teknologi sehingga dapat menghadapi Ghozwul Fikri.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Ilmu Pengetauan Dan Teknologi Dalam Pandangan Islam
Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
(IPTEK) merupakan salah satu faktor penunjang kemajuan Sumber Daya Manusia
(SDM), karena dengan adanya Ilmu Pengetahuan dan Teknologi suatu negara bisa
bersaing dan disetarakan dengan negara-negara lain. Setiap manusia diberikan
ilmu pengetahuan oleh Allah SWT, agar menjadi orang berkualitas yang dapat
menjunjung tinggi derajatnya. Maka dengan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
manusia akan lebih bermanfaat, baik untuk dirinya maupun untuk masyarakat. Akan
tetapi, semua itu tergantung kemampuan yang timbul dari orang itu sendiri.[1]
1. Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK)
Sebelum
memaparkan ilmu pengetahuan dan teknologi, perlu diketahui sekilas tentang
perbedaan antara pengetahuan dan ilmu agar tidak terjebak pada kesalahpahaman
mengenai keduanya, sehingga bisa memahami dengan mudah dan benar apa yang
dimaksud dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Ilmu adalah bagian dari pengetahuan yang
terklasifikasi, tersistem, dan terukur serta dapat dibuktikan kebenarannya
secara empiris.[2] Ilmu menurut
Al-Qur’an adalah rangkaian keterangan yang bersumber dari Allah yang diberikan
kepada manusia baik melalui Rasulnya atau langsung kepada manusia yang
menghendakinya tentang alam semesta sebagai ciptaan Allah yang bergantung
menurut ketentuan dan kepastian-Nya. Sementara itu,
pengetahuan adalah keseluruhan pengetahuan yang belum tersusun, baik mengenai
metafisik maupun fisik.[3]
Dapat juga dikatakan pengetahuan adalah informasi yang berupa common sense, sedangkan ilmu sudah
merupakan bagian yang lebih tinggi dari itu karena memiliki metode dan mekanisme
tertentu. Jadi ilmu lebih khusus daripada pengetahuan, tetapi tidak berarti
semua ilmu adalah pengetahuan. Menurut Sutrisno Hadi, ilmu kumpulan dari
pengalaman-pengalaman dan pengetahuan-pengetahuan dari sejumlah orang-orang
yang dipadukan secara harmonis dalam suatu bangunan yang teratur. Sedangkan
teknologi adalah kemampuan teknik yang berlandaskan pengetahuan ilmu eksakta
dan berdasarkan proses teknis.[4]
2. Ilmu Pengetahuan dan Teknologi di jaman Islam
Islam pernah
berjaya di bidang IPTEK sekitar abad VIII sampai dengan abad XIII. Tradisi
keilmuan umat Islam dipelopori oleh Al-Kindi (filosof penggerak dan pengembang
ilmu pengetahuan) yang mengatakan bahwa Islam itu dapat memperoleh ilmu
pengetahuan dan teknologi dari manapun sumbernya, asalkan tidak bertenangan
dengan akidah dan syariat. Hal ini sejalan dengan hadits nabi yang menyuruh
umatnya berlayar sampai ke negeri China untuk memperoleh ilmu pengetahuan. Padahal
China adalah negara non muslim. Menurut Harun Nasution, pemikiran rasional
berkembang pada jaman Islam (650-1250 M). Pemikiran ini dipengaruhi oleh
persepsi tentang bagaimana tingginya kedudukan akal seperti yang terdapat dalam
al-Qur`an dan hadits.[5]
Persepsi ini
bertemu dengan persepsi yang sama dari Yunani melalui filsafat dan sains Yunani
yang berada di kota-kota pusat peradaban Yunani di Dunia Islam Zaman Klasik,
seperti Alexandria (Mesir), Jundisyapur (Irak), Antakia (Syiria), dan Bactra
(Persia). W. Montgomery Watt menambahkan lebih rinci bahwa ketika Irak, Syiria,
dan Mesir diduduki oleh orang Arab pada abad ketujuh, ilmu pengetahuan dan
filsafat Yunani dikembangkan di berbagai pusat belajar. Terdapat sebuah sekolah
terkenal di Alexandria, Mesir, tetapi kemudian dipindahkan pertama kali ke
Syiria, dan kemudian pada sekitar tahun 900 M ke Baghdad. Maka para khalifah
dan para pemimpin kaum Muslim lainnya menyadari apa yang harus dipelajari dari
ilmu pengetahuan Yunani. Mereka mengagendakan agar menerjemahkan sejumlah buku
penting dapat diterjemahkan. Beberapa terjemahan sudah mulai dikerjakan pada
abad kedelapan. Penerjemahan secara serius baru dimulai pada masa pemerintahan
al-Ma’mun (813-833 M). Dia mendirikan Bayt al-Ḥikmah, sebuah lembaga khusus
penerjemahan. Sejak saat itu dan seterusnya, terdapat banjir penerjemahan
besar-besaran. Penerjemahan terus berlangsung sepanjang abad kesembilan dan
sebagian besar abad kesepuluh.[6]
3.
IPTEK
dilihat dari pandangan Islam
Ilmu
Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) menurut pandangan Al-Qur’an mengundang
kita untuk menengok sekian banyak ayat Al-Qur’an yang berbicara tentang alam
raya. Menurut ulama terdapat 750 ayat Al-Qur’an yang menjelaskan tentang alam
beserta fenomenanya dan memerintahkan manusia untuk mengetahui dan
memanfaatkannya. Allah SWT berfirman dalam QS Al-Baqarah ayat 31 yang artinya : “Dan
dia ajarkan kepada Adam nama-nama (benda) semuanya, kemudian diperintahkan
kepada malaikat-malaikat, seraya berfirman “Sebutkan kepadaku nama semua
(benda) ini, jika kamu yang benar”. Dari ayat di atas yang dimaksud nama-nama
adalah sifat, ciri, dan hukum sesuatu. Ini berarti manusia berpotensi
mengetahui rahasia alam semesta. Adanya potensi tersebut, dan tersedianya lahan
yang diciptakan Allah, serta ketidakmampuan alam untuk membangkang pada
perintah dan hukum-hukum Tuhan, menjadikan ilmuwan dapat memperoleh kepastian
mengenai hukum-hukum alam. Karenanya, semua itu menghantarkan pada manusia
berpotensi untuk memanfaatkan alam itu merupakan buah dari ilmu pengetahuan dan
teknologi.[7]
Al-Qur’an memerintahkan manusia untuk terus berupaya meningkatkan kemampuan
ilmiahnya. Jangankan manusia biasa, Rasul Allah Muhammad SAW pun diperintahkan
agar berusaha dan berdoa agar selalu ditambah pengetahuannya (QS Yusuf :
72).
Hal ini
dapat menjadi pemicu manusia untuk terus mengembangkan teknologi dengan
memanfaatkan anugerah Allah yang dilimpahkan kepadanya. Karena itu, laju IPTEK
memang tidak dapat dibendung, hanya saja manusia dapat berusaha mengarahkan
diri agar tidak diperturutkan nafsunya untuk mengumpulkan harta dan IPTEK yang
dapat membahayakan dirinya dan yang lainnya.[8]
B. Masa kejayaan dan kemuduran IPTEK di kalangan Islam
Dari buku “Ilmuwan Muslim Sepanjang Sejarah” yang ditulis oleh M.
Natsir Arsyad, diperoleh beberapa informasi tentang nama-nama ilmuwan Islam
yang mengharumkan namanya. Diantaranya adalah sebagai berikut:
1.
Al-Khawarizmi (Algorismus atau Alghoarismus).
Merupakan tokoh penting dalam bidang matematika dan astronomi. Istilah
teknis algorisme diambil dari
namanya. Dia memberi landasan untuk aljabar. Istilah “algebra” diambil dari judul karyanya.
Karya-karyanya adalah rintisan pertama dalam bidang aritmatika yang menggunakan
cara penulisan desimal seperti yang ada dewasa ini, yakni angka-angka Arab. Al-Khawirizmi dan para penerusnya menghasilkan
metode-metode untuk menjalankan operasi-operasi matematika yang secara
aritmatis mengandung berbagai kerumitan, misalnya mendapatkan akar kuadrat dari
satu angka. Di antara ahli matematika yang karyanya telah diterjemahkan ke dalam
bahasa Latin adalah al-Nayrizi atau Anaritius (w. 922 M) dan Ibn al-Haytham
atau Alhazen (w. 1039 M). Ibn al-Haytham menentang teori Eucleides dan
Ptolemeus yang menyatakan bahwa sinar visual memancar dari mata ke obyeknya,
dan mempertahankan pandangan kebalikannya bahwa cahayalah yang memancar dari
obyek ke mata.[9]
2.
Di bidang astronomi, al-Battani
(Albategnius).
Menghasilkan
tabel-tabel astronomi yang luar biasa akuratnya pada sekitar tahun 900 M.
Ketepatan observasi-observasinya tentang gerhana telah digunakan untuk
tujuan-tujuan perbandingan sampai tahun 1749 M. Selain al-Battani, ada Jabir
ibn Aflaḥ (Geber) dan al-Biṭruji (Alpetragius). Jabir ibn Aflaḥ dikenal karena
karyanya di bidang trigonometri sperik. Di bidang astronomi dan matematika, ada
juga Maslamah al-Majriṭi (w. 1007 M), Ibn al-Samḥ, dan Ibn al-Ṣaffar. Ibn Abi
al-Rijal (Abenragel) di bidang astrologi.[10]
3.
Abu Bakar Muhammad ibn Zakaiyya al-Razi
atau Rhazes
Dalam bidang
kedokteran Abu Bakar Muḥammad ibn Zakariyya al-Razi atau Rhazes (250-313 H/864-925
M atau 320 H/932 M). Ibn Sina atau Avicenna (w. 1037 M),
Ibn Rushd atau Averroes (1126-1198 M), Abu al-Qasim al-Zahriwi (Abulcasis), dan
Ibn Ẓuhr atau Avenzoar (w. 1161 M). Al-Ḥawi karya al-Razi merupakan sebuah ensiklopedi mengenai seluruh
perkembangan ilmu kedokteran sampai masanya. Untuk setiap penyakit dia
menyertakan pandangan-pandangan dari para pengarang Yunani, Syiria, India,
Persia, dan Arab, dan kemudian menambah catatan hasil observasi klinisnya
sendiri dan menyatakan pendapat finalnya. Buku Canon of Medicine karya Ibnu Sina sudah
diterjemahkan ke dalam bahasa Latin pada abad ke-12 M dan terus mendominasi
pengajaran kedokteran di Eropa setidak-setidaknya sampai akhir abad ke-16 M dan
seterusnya. Tulisan Abu al-Qasim al-Zahrawi tentang pembedahan (operasi) dan alat-alatnya
merupakan sumbangan yang berharga dalam bidang kedokteran.[11]
4.
Jabir ibn Hayyan (Geber) dan al-Biruni
Dalam bidang kimia Jabir ibn Ḥayyan (Geber) dan al-Biruni (362-442 H/973-1050
M). Sebagian karya Jabir ibn Ḥayyan memaparkan metode-metode pengolahan berbagai zat
kimia maupun metode pemurniannya. Sebagian besar kata untuk menunjukkan zat dan
bejana-bejana kimia yang belakangan menjadi bahasa orang-orang Eropa berasal
dari karya-karyanya. Sementara itu, al-Biruni mengukur sendiri
gaya berat khusus dari beberapa zat yang mencapai ketepatan tinggi. Tetapi dari
tahun ke tahun para ilmuwan muslim yang muncul semakin sedikit, salah satunya
dari Negara Indonesia adalah Prof. Dr. B. J. Habibie dalam bidang
kedirgantaraan.[12]
Disamping
dari tahun ke tahun ilmuwan muslim yang muncul sedikit, menurut Prof. Dr. Abdus
Salam dalam bukunya “Sains dan Dunia Islam” yang diterjemahkan oleh Prof. Dr.
Achmad Baiquni yang mengatakan : “Pada hemat saya, matinya kegiatan sains di
persemakmuran Islam lebih banyak disebabkan faktor-faktor internal”. Ibnu
Khaldun seorang tokoh sejarahwan sosial mengatakan : “Kita mendengar baru-baru
ini, bahwa di tanah bangsa Franka dan di pesisir Timur Tengah sedang
ditumbuhkan ilmu-ilmu filsafat dengan giat”. Atas perkataan Ibnu Khaldun di
atas, Prof. Abdus Salam mengatakan : “Ibnu Khaldun tidak memperlihatkan sikap
ingin tahu atau menyesal, justru sikap acuh yang hampir mendekati permusuhan”.[13]
Dari
ungkapan Prof. Abdus Salam tersebut, sejak saat itu telah muncul dikotomi
antara ayat-ayat kitabiyyah dan ayat-ayat khauniyyah dikalangan muslim. Jadi
timbul persepsi bahwa Islam hanya berbicara tentang ilmu-ilmu sesuai dengan
Al-Qur’an, tetapi tanpa mempelajari dan mengembangkan ilmu-ilmu yang ada di
Al-Qur’an dengan melihat fenomena-fenomena alam semesta. Sehingga itu merupakan
salah satu faktor kemunduran ilmu pengetahuan di kalangan Islam. Kita juga
sering mendengar ungkapan cendekiawan Islam maupun ulama bahwa penemuan-penemuan
ilmiah yang mutakhir diungkap dari Al-Qur’an. Tetapi fakta berbicara bahwa yang
menemukan bukanlah orang Islam, tetapi orang-orang baratlah yang menemukan.
Kalangan Islam baru sadar bahwa prinsip ilmu itu ada dalam Al-Qur’an setelah
ilmu itu diketemukan oleh orang non Islam. Kenyataan ini menunjukkan bahwa
kalangan Islam senantiasa tertinggal dalam perkembangan IPTEK dan terlambat
dalam menafsirkan kebenaran ilmu itu dari Al-Qur’an.
Demikian
sekilas gambaran kemajuan dan kemunduran IPTEK di kalangan Islam, sehingga saat
ini ilmuwan di kalangan Islam sedikit memberikan sumbangan pada pertumbuhan dan
kemajuan IPTEK secara keseluruhan.[14]
Syarat bangkitnya Ilmu Pegetahuan
dan Teknologi (IPTEK) di kalangan Islam
Beberapa persyaratan yang harus dipenuhi oleh kalangan Islam apabila berkehendak untuk membangkitkan kembali IPTEK di dunia Islam.
Beberapa persyaratan yang harus dipenuhi oleh kalangan Islam apabila berkehendak untuk membangkitkan kembali IPTEK di dunia Islam.
1) kita harus
menyadari dan memahami kembali bahwa tugas kekhalifahan tidak lain adalah
memakmurkan bumi dan berupaya menciptakan bayang-bayang syurga di bumi. Alat
untuk mengemban tugas tersebut adalah IPTEK.[15]
2) kita harus
mampu menangkap pesan-pesan yang terkandung dalam wahyu yang pertama kali
turun. Jika diperhatikan kata iqra’ (baca), maka kita akan dapati bahwa tidak
ada obyek khusus yang harus di baca, tetapi obyeknya bersifat umum, meliputi
segala sesuatu yang dapat dijangkau oleh kata tersebut, yaitu alam semesta,
masyarakat dan manusia itu sendiri.
3) kalangan
Islam harus menyadari dan memahami bahwa hampir seperdelapan ayat-ayat
Al-Qur’an sebenarnya kita ditegur, agar kalangan Islam senantiasa mempelajari
alam semesta, untuk berfikir dengan menggunakan penalaran yang sebaik-baiknya,
untuk menjadikan kegiatan ilmiah sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari
kehidupan umat Islam.[16]
4) kita harus
ingat sabda Nab Muhammad SAW : “ Sesungguhnya orang yang berilmu adalah pewaris
Nabi” , kalimat tersebut mempunyai dua sisi yang merupakan satu kesatuan. Sisi
pertama, memang orang berilmulah yang berhak disebut sebagai pewaris Nabi, dan
sisi kedua, orang-orang yang mewarisi akhlak Nabilah yang layak disebut sebagai
pewaris Nabi. Dengan demikian orang memiliki ilmu dan berakhlakul karimah Nabi
yang layak disebut pewaris Nabi dalam segala bidang ilmu apapun yang
ditekuninya.[17]
5) kita harus
menyadari dan memahami bahwa Al-Qur’an QS Az Zumar ayat 9
menekankan bahwa apakah sama orang yang mempunyai ilmu pengetahuan dengan
orang-orang yang tidak berpengetahuan. Ayat di atas merupakan sindiran
untuk menyadarkan kalangan Islam agar mempunyai kesadaran ilmiah.
6) Para
penguasa (pengambil keputusan) hendaknya menyadari dan memahami bahwa kedudukan
mereka sangat startegis dalam menumbuhkan suasan kehidupan ilmiah, karena
tumbuh suburnya IPTEK tergantung pada kebijakan-kebijakan yang dilahirkan.[18]
7) para
konglongmerat muslim seharusnya bersatu dalam suatu wadah untuk membiayai
proyek atau program-program yang berkenaan dengan pengembangan IPTEK.
8) para
pengasuh pondok pesantren mulai membuka diri pada IPTEK, dengan memasukkan
IPTEK pada kurikulum dan kegiatannya, tanpa menggeser agama. Dari delapan syarat di atas, merupakan faktor penting bagi
kebangkitan IPTEK di kalangan Islam.[19]
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Ilmu
Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) merupakan salah satu faktor penunjang
kemajuan Sumber Daya Manusia (SDM), karena dengan adanya Ilmu Pengetahuan dan
Teknologi suatu negara bisa bersaing dan disetarakan dengan negara-negara lain.
Setiap manusia diberikan ilmu pengetahuan oleh Allah SWT, agar menjadi orang
berkualitas yang dapat menjunjung tinggi derajatnya. Maka dengan Ilmu Pengetahuan
dan Teknologi manusia akan lebih bermanfaat, baik untuk dirinya maupun untuk
masyarakat. Akan tetapi, semua itu tergantung kemampuan yang timbul dari orang
itu sendiri.
DAFTAR
PUSTAKA
Agus
Sudarmanto, Pada tanggal 19 Maret 2011. disampaikan
dalam diskusi dosen Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo, Semarang.
Sidik, M. Ansorudin, 1995, Pengembangan
Wawasan IPTEK Pondok Pesantren, PT. Bumi Aksara, Jakarta.
http://media.isnet.org/Islam/Qurdish/Wawasan/IPTEK2.html
Arsyad, M.
Natsir. 1992. Ilmuwan Muslim Sepanjang Sejarah : Dari Jabir Hingga Abdus Salam.
Bandung : Penerbit
Mizan.
Bahreisj,Hossein.
1995. Menengok Kejayaan Islam. Surabaya : PT. Bina Ilmu
Myers, Eugene
A.2003. Zaman Keemasan Islam Para Ilmuwan Muslim dan Pengaruhnya Terhadap Dunia
Barat
[1] Agus Sudarmanto. Disampaikan dalam diskusi dosen Fakultas
Tarbiyah IAIN Walisongo, (semarang pada tanggal: 19 maret 2011).
[2] Agus sudarmanto. Disampaikan dalam........., 19 maret
2011.
[3] Sidik, M. Ansorudin. Pengembangan Wawasan IPTEK pondok pasantren,
(Bumi Aksara, Jakarta: 1992) Hal. 54
[4] Sidik, M. Ansorudin. Pengembangan Wawasan........., Hal. 54
[5] Bahreisj, Hossein. Menengok Kejayaan Islam, (PT Bina Ilmu,
Surabaya: 1995). Hal. 64
[6] Bahreisj, Hossein. Menengok Kejayaan........., hal. 64-65
[7]
http://tpers.net. Memandang-ilmu-pengetahuan-dan-teknologi-dari-kaca-mata-islam/09/2007
[9] Arsyad, M. Natsir. Ilmuan Muslim Sepanjang Sejarah: Dari Jabir
Hingga Abdus salam (bandung: 1992). Hal. 49
[10] Arsyad,
M. Natsir. Ilmuan
Muslim........., Hal. 48
[11] Arsyad,
M. Natsir. Ilmuan
Muslim........., Hal. 48
[12] Arsyad, M. Natsir. Ilmuan Muslim........., Hal. 49
[13] Arsyad, M. Natsir. Ilmuan Muslim........., Hal. 49-50
[14] Arsyad,
M. Natsir. Ilmuan
Muslim........., Hal. 50
[15] Arsyad,
M. Natsir. Ilmuan
Muslim........., Hal. 51
[16] Arsyad,
M. Natsir. Ilmuan
Muslim........., Hal. 51
[17] Arsyad,
M. Natsir. Ilmuan
Muslim........., Hal. 52
[18] Arsyad,
M. Natsir. Ilmuan
Muslim........., Hal. 52
[19] Arsyad,
M. Natsir. Ilmuan
Muslim........., Hal. 53