Kamis, 27 Desember 2012

ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI DALAM PANDANGAN ISLAM


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar belakang
Di era globalisasi ini, perkembangan ilmu dan teknologi sangat cepat. Sejumlah penemuan dan inovasi memberikan kontribusi yang tinggi munculnya produk-produk baru yang memudahkan pekerjaan manusia. Akan tetapi sangat disayangkan kebanyakan para ilmuwan yang muncul berasal dari negeri barat yang rata-rata bukan berasal dari kaum musalimin. Lantas dimanakah para ilmuwan muslimin itu? Bukankah dalam islam disebutkan bahwa tiap muslim itu diwajibkan menuntut ilmu? Apakah kaum muslimin kini menyadari bahwa kita sedang mengalami apa yang dimaksud engan Ghozwul Fikri (Perang pemikiran)? 
Jadi yang di maksud Ghozwul Fikri-perang pemikiran disini adalah perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan yang sedemikian cepat, membuat manusia terlena. Disadari atau tidak secara tidak langsung, para kaum Nasrani dan Yahudi mengubah pola perang mereka, dari fisik menjadi pemikiran. Melalui teknologi, saluran komunikasi, informasi perang itu terjadi. Lihat saja berbagai situs di internet yang terkadang kita tidak diketahui sumbernya beanr/tidak, menjadi saluran/strategi perang pemikiran yang efektif. Lihat saja kenyataannya, tidak sedikit situs-situs jaringan seperti Friendster, dan sebagainya menjadi rutinitas dan hal yang utama bagi tiap remaja untuk mencari teman. Dan bila kita tidak cerdik mengikapi perkembangan teknologi dan informasi ini, kita bisa terseret bahkan menjadi budak teknologi. Dan tidak sedikit terjadi waktu sholat/ibadah terbuang karena ilmu pengetahuan dan teknologi. Dan bila manusia telah jauh dari Iman, dari islam dan Tuhannya, ilmu yang ia miliki tidak akan memberi manfaat, malah dapat menjadi penghambat atau menimbulkan kerusakan.
Oleh sebab itu sebagai insan cendikia yang bernafaskan islam, sudah selayaknya dalam menuntut ilmu dan mengikuti perkembangan teknologi, hendaknya juga dilandasi oleh iman, dan secara cerdik memanfaatkan saluran informasi dan teknologi itu untuk menghadapi perlawanan terselubung kaum Nasrani dan Yahudi. Sudah seharusnya kaum muslimin mengendalikan teknologi untuk kebaikan bukan menjadi budak teknologi sehingga dapat menghadapi Ghozwul Fikri.




BAB II
PEMBAHASAN

A.    Ilmu Pengetauan Dan Teknologi Dalam Pandangan Islam
Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) merupakan salah satu faktor penunjang kemajuan Sumber Daya Manusia (SDM), karena dengan adanya Ilmu Pengetahuan dan Teknologi suatu negara bisa bersaing dan disetarakan dengan negara-negara lain. Setiap manusia diberikan ilmu pengetahuan oleh Allah SWT, agar menjadi orang berkualitas yang dapat menjunjung tinggi derajatnya. Maka dengan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi manusia akan lebih bermanfaat, baik untuk dirinya maupun untuk masyarakat. Akan tetapi, semua itu tergantung kemampuan yang timbul dari orang itu sendiri.[1]
1.      Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK)
Sebelum memaparkan ilmu pengetahuan dan teknologi, perlu diketahui sekilas tentang perbedaan antara pengetahuan dan ilmu agar tidak terjebak pada kesalahpahaman mengenai keduanya, sehingga bisa memahami dengan mudah dan benar apa yang dimaksud dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Ilmu adalah bagian dari pengetahuan yang terklasifikasi, tersistem, dan terukur serta dapat dibuktikan kebenarannya secara empiris.[2] Ilmu menurut Al-Qur’an adalah rangkaian keterangan yang bersumber dari Allah yang diberikan kepada manusia baik melalui Rasulnya atau langsung kepada manusia yang menghendakinya tentang alam semesta sebagai ciptaan Allah yang bergantung menurut ketentuan dan kepastian-Nya. Sementara itu, pengetahuan adalah keseluruhan pengetahuan yang belum tersusun, baik mengenai metafisik maupun fisik.[3] Dapat juga dikatakan pengetahuan adalah informasi yang berupa common sense, sedangkan ilmu sudah merupakan bagian yang lebih tinggi dari itu karena memiliki metode dan mekanisme tertentu. Jadi ilmu lebih khusus daripada pengetahuan, tetapi tidak berarti semua ilmu adalah pengetahuan. Menurut Sutrisno Hadi, ilmu  kumpulan dari pengalaman-pengalaman dan pengetahuan-pengetahuan dari sejumlah orang-orang yang dipadukan secara harmonis dalam suatu bangunan yang teratur. Sedangkan teknologi adalah kemampuan teknik yang berlandaskan pengetahuan ilmu eksakta dan berdasarkan proses teknis.[4]

2.      Ilmu Pengetahuan dan Teknologi di jaman Islam
Islam pernah berjaya di bidang IPTEK sekitar abad VIII sampai dengan abad XIII. Tradisi keilmuan umat Islam dipelopori oleh Al-Kindi (filosof penggerak dan pengembang ilmu pengetahuan) yang mengatakan bahwa Islam itu dapat memperoleh ilmu pengetahuan dan teknologi dari manapun sumbernya, asalkan tidak bertenangan dengan akidah dan syariat. Hal ini sejalan dengan hadits nabi yang menyuruh umatnya berlayar sampai ke negeri China untuk memperoleh ilmu pengetahuan. Padahal China adalah negara non muslim. Menurut Harun Nasution, pemikiran rasional berkembang pada jaman Islam (650-1250 M). Pemikiran ini dipengaruhi oleh persepsi tentang bagaimana tingginya kedudukan akal seperti yang terdapat dalam al-Qur`an dan hadits.[5]
Persepsi ini bertemu dengan persepsi yang sama dari Yunani melalui filsafat dan sains Yunani yang berada di kota-kota pusat peradaban Yunani di Dunia Islam Zaman Klasik, seperti Alexandria (Mesir), Jundisyapur (Irak), Antakia (Syiria), dan Bactra (Persia). W. Montgomery Watt menambahkan lebih rinci bahwa ketika Irak, Syiria, dan Mesir diduduki oleh orang Arab pada abad ketujuh, ilmu pengetahuan dan filsafat Yunani dikembangkan di berbagai pusat belajar. Terdapat sebuah sekolah terkenal di Alexandria, Mesir, tetapi kemudian dipindahkan pertama kali ke Syiria, dan kemudian pada sekitar tahun 900 M ke Baghdad. Maka para khalifah dan para pemimpin kaum Muslim lainnya menyadari apa yang harus dipelajari dari ilmu pengetahuan Yunani. Mereka mengagendakan agar menerjemahkan sejumlah buku penting dapat diterjemahkan. Beberapa terjemahan sudah mulai dikerjakan pada abad kedelapan. Penerjemahan secara serius baru dimulai pada masa pemerintahan al-Ma’mun (813-833 M). Dia mendirikan Bayt al-Ḥikmah, sebuah lembaga khusus penerjemahan. Sejak saat itu dan seterusnya, terdapat banjir penerjemahan besar-besaran. Penerjemahan terus berlangsung sepanjang abad kesembilan dan sebagian besar abad kesepuluh.[6]

3.      IPTEK dilihat dari pandangan Islam
Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) menurut pandangan Al-Qur’an  mengundang kita untuk menengok sekian banyak ayat Al-Qur’an yang berbicara tentang alam raya. Menurut ulama terdapat 750 ayat Al-Qur’an yang menjelaskan tentang alam beserta fenomenanya dan memerintahkan manusia untuk mengetahui dan memanfaatkannya. Allah SWT berfirman dalam QS Al-Baqarah ayat 31 yang artinya : “Dan dia ajarkan kepada Adam nama-nama (benda) semuanya, kemudian diperintahkan kepada malaikat-malaikat, seraya berfirman “Sebutkan kepadaku nama semua (benda) ini, jika kamu yang benar”. Dari ayat di atas yang dimaksud nama-nama adalah sifat, ciri, dan hukum sesuatu. Ini berarti manusia berpotensi mengetahui rahasia alam semesta. Adanya potensi tersebut, dan tersedianya lahan yang diciptakan Allah, serta ketidakmampuan alam untuk membangkang pada perintah dan hukum-hukum Tuhan, menjadikan ilmuwan dapat memperoleh kepastian mengenai hukum-hukum alam. Karenanya, semua itu menghantarkan pada manusia berpotensi untuk memanfaatkan alam itu merupakan buah dari ilmu pengetahuan dan teknologi.[7] Al-Qur’an memerintahkan manusia untuk terus berupaya meningkatkan kemampuan ilmiahnya. Jangankan manusia biasa, Rasul Allah Muhammad SAW pun diperintahkan agar berusaha dan berdoa agar selalu ditambah pengetahuannya  (QS Yusuf : 72).
Hal ini dapat menjadi pemicu manusia untuk terus mengembangkan teknologi dengan memanfaatkan anugerah Allah yang dilimpahkan kepadanya. Karena itu, laju IPTEK memang tidak dapat dibendung, hanya saja manusia dapat berusaha mengarahkan diri agar tidak diperturutkan nafsunya untuk mengumpulkan harta dan IPTEK yang dapat membahayakan dirinya dan yang lainnya.[8]

B.     Masa kejayaan dan kemuduran IPTEK di kalangan Islam
         Dari buku “Ilmuwan Muslim Sepanjang Sejarah” yang ditulis oleh M. Natsir Arsyad, diperoleh beberapa informasi tentang nama-nama ilmuwan Islam yang mengharumkan namanya. Diantaranya adalah sebagai berikut:

1.      Al-Khawarizmi (Algorismus atau Alghoarismus).
Merupakan tokoh penting dalam bidang matematika dan astronomi. Istilah teknis algorisme diambil dari namanya. Dia memberi landasan untuk aljabar. Istilah “algebra” diambil dari judul karyanya. Karya-karyanya adalah rintisan pertama dalam bidang aritmatika yang menggunakan cara penulisan desimal seperti yang ada dewasa ini, yakni angka-angka Arab. Al-Khawirizmi dan para penerusnya menghasilkan metode-metode untuk menjalankan operasi-operasi matematika yang secara aritmatis mengandung berbagai kerumitan, misalnya mendapatkan akar kuadrat dari satu angka. Di antara ahli matematika yang karyanya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin adalah al-Nayrizi atau Anaritius (w. 922 M) dan Ibn al-Haytham atau Alhazen (w. 1039 M). Ibn al-Haytham menentang teori Eucleides dan Ptolemeus yang menyatakan bahwa sinar visual memancar dari mata ke obyeknya, dan mempertahankan pandangan kebalikannya bahwa cahayalah yang memancar dari obyek ke mata.[9]

2.      Di bidang astronomi, al-Battani (Albategnius).
Menghasilkan tabel-tabel astronomi yang luar biasa akuratnya pada sekitar tahun 900 M. Ketepatan observasi-observasinya tentang gerhana telah digunakan untuk tujuan-tujuan perbandingan sampai tahun 1749 M. Selain al-Battani, ada Jabir ibn Aflaḥ (Geber) dan al-Biṭruji (Alpetragius). Jabir ibn Aflaḥ dikenal karena karyanya di bidang trigonometri sperik. Di bidang astronomi dan matematika, ada juga Maslamah al-Majriṭi (w. 1007 M), Ibn al-Samḥ, dan Ibn al-Ṣaffar. Ibn Abi al-Rijal (Abenragel) di bidang astrologi.[10]

3.      Abu Bakar Muhammad ibn Zakaiyya al-Razi atau Rhazes
Dalam bidang kedokteran Abu Bakar Muḥammad ibn Zakariyya al-Razi atau Rhazes (250-313 H/864-925 M atau 320 H/932 M). Ibn Sina atau Avicenna (w. 1037 M), Ibn Rushd atau Averroes (1126-1198 M), Abu al-Qasim al-Zahriwi (Abulcasis), dan Ibn Ẓuhr atau Avenzoar (w. 1161 M). Al-Ḥawi karya al-Razi merupakan sebuah ensiklopedi mengenai seluruh perkembangan ilmu kedokteran sampai masanya. Untuk setiap penyakit dia menyertakan pandangan-pandangan dari para pengarang Yunani, Syiria, India, Persia, dan Arab, dan kemudian menambah catatan hasil observasi klinisnya sendiri dan menyatakan pendapat finalnya. Buku Canon of Medicine karya Ibnu Sina sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin pada abad ke-12 M dan terus mendominasi pengajaran kedokteran di Eropa setidak-setidaknya sampai akhir abad ke-16 M dan seterusnya. Tulisan Abu al-Qasim al-Zahrawi tentang pembedahan (operasi) dan alat-alatnya merupakan sumbangan yang berharga dalam bidang kedokteran.[11]

4.      Jabir ibn Hayyan (Geber) dan al-Biruni
Dalam bidang kimia Jabir ibn Ḥayyan (Geber) dan al-Biruni (362-442 H/973-1050 M). Sebagian karya Jabir ibn Ḥayyan memaparkan metode-metode pengolahan berbagai zat kimia maupun metode pemurniannya. Sebagian besar kata untuk menunjukkan zat dan bejana-bejana kimia yang belakangan menjadi bahasa orang-orang Eropa berasal dari karya-karyanya. Sementara itu, al-Biruni mengukur sendiri gaya berat khusus dari beberapa zat yang mencapai ketepatan tinggi. Tetapi dari tahun ke tahun para ilmuwan muslim yang muncul semakin sedikit, salah satunya dari Negara Indonesia adalah Prof. Dr. B. J. Habibie dalam bidang kedirgantaraan.[12]
Disamping dari tahun ke tahun ilmuwan muslim yang muncul sedikit, menurut Prof. Dr. Abdus Salam dalam bukunya “Sains dan Dunia Islam” yang diterjemahkan oleh Prof. Dr. Achmad Baiquni yang mengatakan : “Pada hemat saya, matinya kegiatan sains di persemakmuran Islam lebih banyak disebabkan faktor-faktor internal”. Ibnu Khaldun seorang tokoh sejarahwan sosial mengatakan : “Kita mendengar baru-baru ini, bahwa di tanah bangsa Franka dan di pesisir Timur Tengah sedang ditumbuhkan ilmu-ilmu filsafat dengan giat”. Atas perkataan Ibnu Khaldun di atas, Prof. Abdus Salam mengatakan : “Ibnu Khaldun tidak memperlihatkan sikap ingin tahu atau menyesal, justru sikap acuh yang hampir mendekati permusuhan”.[13]
Dari ungkapan Prof. Abdus Salam tersebut, sejak saat itu telah muncul dikotomi antara ayat-ayat kitabiyyah dan ayat-ayat khauniyyah dikalangan muslim. Jadi timbul persepsi bahwa Islam hanya berbicara tentang ilmu-ilmu sesuai dengan Al-Qur’an, tetapi tanpa mempelajari dan mengembangkan ilmu-ilmu yang ada di Al-Qur’an dengan melihat fenomena-fenomena alam semesta. Sehingga itu merupakan salah satu faktor kemunduran ilmu pengetahuan di kalangan Islam. Kita juga sering mendengar ungkapan cendekiawan Islam maupun ulama bahwa penemuan-penemuan ilmiah yang mutakhir diungkap dari Al-Qur’an. Tetapi fakta berbicara bahwa yang menemukan bukanlah orang Islam, tetapi orang-orang baratlah yang menemukan. Kalangan Islam baru sadar bahwa prinsip ilmu itu ada dalam Al-Qur’an setelah ilmu itu diketemukan oleh orang non Islam. Kenyataan ini menunjukkan bahwa kalangan Islam senantiasa tertinggal dalam perkembangan IPTEK dan terlambat dalam menafsirkan kebenaran ilmu itu dari Al-Qur’an.
Demikian sekilas gambaran kemajuan dan kemunduran IPTEK di kalangan Islam, sehingga saat ini ilmuwan di kalangan Islam sedikit memberikan sumbangan pada pertumbuhan dan kemajuan IPTEK secara keseluruhan.[14]
Syarat bangkitnya Ilmu Pegetahuan dan Teknologi (IPTEK) di kalangan Islam
Beberapa persyaratan yang harus dipenuhi oleh kalangan Islam apabila berkehendak untuk membangkitkan kembali IPTEK di dunia Islam.
1)      kita harus menyadari dan memahami kembali bahwa tugas kekhalifahan tidak lain adalah memakmurkan bumi dan berupaya menciptakan bayang-bayang syurga di bumi. Alat untuk mengemban tugas tersebut adalah IPTEK.[15]
2)      kita harus mampu menangkap pesan-pesan yang terkandung dalam wahyu yang pertama kali turun. Jika diperhatikan kata iqra’ (baca), maka kita akan dapati bahwa tidak ada obyek khusus yang harus di baca, tetapi obyeknya bersifat umum, meliputi segala sesuatu yang dapat dijangkau oleh kata tersebut, yaitu alam semesta, masyarakat dan manusia itu sendiri.
3)      kalangan Islam harus menyadari dan memahami bahwa hampir seperdelapan ayat-ayat Al-Qur’an sebenarnya kita ditegur, agar kalangan Islam senantiasa mempelajari alam semesta, untuk berfikir dengan menggunakan penalaran yang sebaik-baiknya, untuk menjadikan kegiatan ilmiah sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan umat Islam.[16]
4)      kita harus ingat sabda Nab Muhammad SAW : “ Sesungguhnya orang yang berilmu adalah pewaris Nabi” , kalimat tersebut mempunyai dua sisi yang merupakan satu kesatuan. Sisi pertama, memang orang berilmulah yang berhak disebut sebagai pewaris Nabi, dan sisi kedua, orang-orang yang mewarisi akhlak Nabilah yang layak disebut sebagai pewaris Nabi. Dengan demikian orang memiliki ilmu dan berakhlakul karimah Nabi yang layak disebut pewaris Nabi dalam segala bidang ilmu apapun yang ditekuninya.[17]
5)      kita harus menyadari dan memahami bahwa Al-Qur’an QS Az Zumar    ayat 9 menekankan bahwa apakah sama orang yang mempunyai ilmu pengetahuan dengan orang-orang yang tidak berpengetahuan. Ayat di atas merupakan sindiran untuk  menyadarkan kalangan Islam agar mempunyai kesadaran ilmiah.
6)      Para penguasa (pengambil keputusan) hendaknya menyadari dan memahami bahwa kedudukan mereka sangat startegis dalam menumbuhkan suasan kehidupan ilmiah, karena tumbuh suburnya IPTEK tergantung pada kebijakan-kebijakan yang dilahirkan.[18]
7)      para konglongmerat muslim seharusnya bersatu dalam suatu wadah untuk membiayai proyek atau program-program yang berkenaan dengan pengembangan IPTEK.
8)      para pengasuh pondok pesantren mulai membuka diri pada IPTEK, dengan memasukkan IPTEK pada kurikulum dan kegiatannya, tanpa menggeser agama. Dari delapan syarat di atas, merupakan faktor penting bagi kebangkitan IPTEK di kalangan Islam.[19]




BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) merupakan salah satu faktor penunjang kemajuan Sumber Daya Manusia (SDM), karena dengan adanya Ilmu Pengetahuan dan Teknologi suatu negara bisa bersaing dan disetarakan dengan negara-negara lain. Setiap manusia diberikan ilmu pengetahuan oleh Allah SWT, agar menjadi orang berkualitas yang dapat menjunjung tinggi derajatnya. Maka dengan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi manusia akan lebih bermanfaat, baik untuk dirinya maupun untuk masyarakat. Akan tetapi, semua itu tergantung kemampuan yang timbul dari orang itu sendiri.




DAFTAR PUSTAKA

Agus Sudarmanto, Pada tanggal 19 Maret 2011. disampaikan dalam diskusi dosen Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo,  Semarang.
Sidik, M. Ansorudin, 1995, Pengembangan Wawasan IPTEK Pondok Pesantren, PT. Bumi Aksara, Jakarta.

http://media.isnet.org/Islam/Qurdish/Wawasan/IPTEK2.html

Arsyad, M. Natsir. 1992. Ilmuwan Muslim Sepanjang Sejarah : Dari Jabir Hingga Abdus Salam. Bandung : Penerbit
Mizan.

Bahreisj,Hossein. 1995. Menengok Kejayaan Islam. Surabaya : PT. Bina Ilmu
Myers, Eugene A.2003. Zaman Keemasan Islam Para Ilmuwan Muslim dan Pengaruhnya Terhadap Dunia Barat



[1] Agus Sudarmanto. Disampaikan dalam diskusi dosen Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo, (semarang pada tanggal: 19 maret 2011).
[2] Agus sudarmanto. Disampaikan dalam........., 19 maret 2011.
[3] Sidik, M. Ansorudin. Pengembangan Wawasan IPTEK pondok pasantren, (Bumi Aksara, Jakarta: 1992) Hal. 54

[4] Sidik, M. Ansorudin. Pengembangan Wawasan........., Hal. 54
[5] Bahreisj, Hossein. Menengok Kejayaan Islam, (PT Bina Ilmu, Surabaya: 1995). Hal. 64
[6] Bahreisj, Hossein. Menengok Kejayaan........., hal. 64-65
[7] http://tpers.net. Memandang-ilmu-pengetahuan-dan-teknologi-dari-kaca-mata-islam/09/2007

[9] Arsyad, M. Natsir. Ilmuan Muslim Sepanjang Sejarah: Dari Jabir Hingga Abdus salam (bandung: 1992). Hal. 49
[10] Arsyad, M. Natsir. Ilmuan Muslim........., Hal. 48
[11] Arsyad, M. Natsir. Ilmuan Muslim........., Hal. 48

[12] Arsyad, M. Natsir. Ilmuan Muslim........., Hal. 49
[13] Arsyad, M. Natsir. Ilmuan Muslim........., Hal. 49-50
[14] Arsyad, M. Natsir. Ilmuan Muslim........., Hal. 50
[15] Arsyad, M. Natsir. Ilmuan Muslim........., Hal. 51
[16] Arsyad, M. Natsir. Ilmuan Muslim........., Hal. 51
[17] Arsyad, M. Natsir. Ilmuan Muslim........., Hal. 52

[18] Arsyad, M. Natsir. Ilmuan Muslim........., Hal. 52
[19] Arsyad, M. Natsir. Ilmuan Muslim........., Hal. 53

Komponen-Komponen Kurikulum


BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang
           Kurikulum merupakan alat atau kunci dalam prosess pendidikan formal.Tidak mengherankan apabila alat ini selalu dirombak atau ditinjau kembali untuk mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan zaman. Oleh sebab itu kurikulum juga harus selalu berkembang.Istilah pengembangan menunjuk pada suatu kegiatan menghasilkan suatu alat atau cara baru, dimana selama kegiatan tersebut penilaian dan penyempurnaan terhadap alat atau cara tersebut terus dilakukan. Bila setelah mengalami penyempurnaan-penyempurnaan akhirnya alat atau cara tersebut dipandang cukup mantap untuk digunakan seterusnya, maka berakhirlah kegiatan pengembangan tersebut. Kegiatan pengembangan kurikulum mencakup penyusunan kurikulum itu sendiri, pelaksanaan di sekolah-sekolah yang disertai dengan penilaian intensif.




BAB II
PEMBAHASAN

A.     Komponen-Komponen Kurikulum
         Fungsi kurikulum dalam proses pendidikan adalah sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan. Maka hal ini berarti bahwa sebagai alat pendidikan kurikulum memiliki bagian-bagian penting dan penunjang yang dapat mendukung operasinya secara baik.Bagian-bagian ini disebut komponen.Kurikulum sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan memiliki komponen pokok dan komponen penunjang yang saling berkaitan, berinteraksi dalam rangka dukungannya untuk mencapai tujuan itu. Komponen pokok kurikulum adalah sebagai berikut:[1]

1.      Komponen Tujuan
           Kurikulum merupakan suatu program yang dimaksudkan untuk mencapai tujuan pendidikan.Tujuan itulah yang dijadikan arah atau acuan segala kegiatan pendidikan yang dijalankan.Berhasil atau tidaknya program pengajaran di Sekolah dapat diukur dari seberapa jauh dan banyaknya pencapaian tujuan-tujuan tersebut. Dalam setiap kurikulum lembaga pendidikan, pasti dicantumkan tujuan-tujuan pendidikan yang akan atau harus dicapai oleh lembaga pendidikan yang bersangkutan. Kurikulum menyediakan kesempatan yang luas bagi peserta didik untuk mengalami proses pendidikan nasional khususnya dan sumber daya manusia yang berkualitas umumnya. Tujuan ini dikatagorikan sebagai tujuan umum kurikulum.[2]
Tujuan mata pelajaran. Mata pelajaran dikelompokkan menjadi beberapa bidang studi, yaitu:
a)      Bidang studi bahasa dan seni.
b)      Bidang studi ilmu pengetahuan sosial.
c)      Bidang studi ilmu pengetahuan alam.
d)     Bidang studi pendidikan jasmani dan kesehatan.
Setiap bidang studi meliputi sejumlah mata pelajaran tertentu.Misalnya bidang studi IPS, terdiri dari mata pelajaran ekonomi, sosiologi, geografi, sejarah dan lain-lain.Setiap mata pelajaran mempunyai tujuan sendiri dan berbeda dengan tujuan yang hendak dicapai oleh mata pelajaran lainnya.Tujuan mata pelajaran merupakan penjabaran dari tujuan kurikulum dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional.[3] Sebagai contoh, kita pilih tujuan mata pelajaran berhitung, sebagai berikut:
a)      Menanamkan, memupuk, dan mengembangkan pengetahuan dan kecakapan dasar berhitung yang praktis.
b)      Menanamkan, memupuk, dan mengembangkan berpikir logis dan kritis dalam pola berpikir abstrak, sehingga mampu memecahkan soal-soal yang dihadapinya dalam kehidupan sehari-hari.
c)      Menanamkan, memupuk, dan mengembangkan kemampuan untuk hemat dan pandai menghargai waktu, rasional, ekonomis.
d)     Menanamkan, memupuk, dan mengembangkan sikap gotong royong, jujur, serta percaya kepada diri sendiri.[4]
            Komponen tujuan mengarahkan atau menunjukan sesuatu yang hendak dituju dalam proses belajar mengajar. Tujuan itu mula-mula bersifat umum. Dalam operasionalisasinya tujuan tersebut harus dibagi menjadi bagian-bagian yang kecil. Ada dua jenis tujuan yang terkandung di dalam kurikukum suatu sekolah, yaitu:
         I.            Tujuan yang ingin di capai oleh sekolah secara keseluruhan sebagai lembaga pedidikan, setiap sekolah mempunyai sejumlah tujuan yang ingin dicapai. Tujuan-tujuan tersebut biasanya digambarkan dalam bentuk pengetahuan, ketrampilan, dan sikap yang kita harapkan dimiliki anak didik setelah mereka menyelesaikan seluruh program pendidikan dari sekolah tersebut.
      II.            Tujuan yang dicapai dalam setiap bidang studi. Tujuan-tujuan setiap bidang studi dalam kurikulum suatu sekolah tertentu ada yang disebut tujuan kurikuler dan instruksional merupakan penjabaran lebih lanjut dari tujuan kurikuler. Atas dasar tujuan kurikuler dan instruksional itulah kemudian ditetapkan bahan pengajaran yang diajarkan dalam setiap bidang studi pada suatu sekolah tertentu.[5]

2.      Komponen Isi / Materi
    Isi program kurikulum adalah segala sesuatu yang diberikan kepada anak didik dalam kegiatan belajar mengajar dalam rangka mencapai tujuan.Materi kurikulum pada hakikatnya adalah isi kurikulum. Dalam undang-undang pendidikan tentang sistem pendidikan nasional telah ditetapkan bahwa; “ isi kurikulum merupakan bahan kajian dan pelajaran untuk mencapai tujuan penyelenggaraan satuan yang bersangkutan dalam rangka upaya pencapaian tujuan pendidikan nasional” (bab IX, pasal 39).[6] Sesuai dengan rumusan tersebut, isi kuruikulum di kembangkan dan disusun berdasarkan prinsip-prinsip sebagai berikut:
1)      Materi kurikulum berupa bahan pembelajaran yang terdiri dari bahan kajian atau topik-topik pelajaran yang dapat dikaji oleh siswa dalam proses belajar dan pembelajaran.
2)      Materi kurikulum mengacu pada pencapaian tujuan masing-masing satuan pendidkan. Perbedaan dalam ruang lingkup dan urutan bahan pelajaran disebabkan oleh perbedaan tujuan satuan pendidikan tersebut.
3)      Meteri kurikulum diarahkan untuk mencapai tujuan pendidikan nasional: dalam hal ini, tujuan pendidikan nasional merupakan target tertinggi yang hendak dicapai melalui penyampaian materi kurikulum.[7]
Isi kurikulum meliputi jenis-jenis bidang studi yang diajarkan dan isi program masing-masing bidang studi tersebut. Bidang-bidang studi tersebut disesuaikan dengan jenis, jenjang maupun jalur pendidikan yang ada.[8]
Kriteria yang dapat membantu pada perancangan kurikulum dalam menentukan isi kurikulum. Kriteria itu antara lain:
a)      Isi kurikulum harus sesuai, tepat dan bermakna bagi perkembangan siswa.
b)      Isi kurikulum harus mencerminkan kenyataan sosial.
c)      Isi kurikulum harus mengandung pengetahuan ilmiah yang tahan uji.
d)     Isi kurikulum mengandung bahan pelajaran yang jelas.
e)      Isi kurikulum dapat menunjanga tercapainya tujuan pendidikan.[9]

3.      Komponen Strategi Pelaksanaan
           Strategi adalah cara yang digunakan untuk menyampaikan materi pelajaran dalam upaya mencapai tujuan kurikulum. Suatu strategi mengandung pengertian telaksananya kegiatan guru dan kegiatan siswa dalam proses pembelajaran. Strategi dilaksanakan melalui prosedur tertentu. Dewasa ini, keaktifan siswa belajar mendapat tekanan utama dibandingkan dengan keaktifan siswa yang bertindak sebagai fasililator dan pembimbing bagi siswa. Karena itu, istilah strategi pembelajaran yang lebih menekankan pada kegiatan siswa, selanjutnya di gantikan dengan istilah metode yang menekankan pada kegiatan guru.[10] Strategi atau metode menempati fungsi yang penting dalam kurikulum, karena memuat tugas-tugas yang perlu dikerjakan oleh siswa dan guru, karena itu, penyesunannya hendaknya berdasarkan analisa tugas yang mengacu pada tujuan kurikulum dan berdasarkan perilaku awal siswa. Dalam hubungan ini, ada tiga alternative pendekatan yang dapat digunakan, yakni :
1)      Pendekatan yang berpusat pada mata pelajaran, dimana materi pembelajaran terutama bersumber dari mata ajaran. Penyampaian dilakukan melalui komunikasi antar guru dan siswa. Guru sebagai penyampaian pesan atau komunikator. Siswa sebagai penerima pesan. Bahan pelajaran adalah pesan itu sendiri. Dalam rangkaian komunikasi tersebut dapat digunakan berbagai metode mengajar.
2)      Pendekatan yang berpusat pada siswa. Pembelajaran dilaksanakan berdasarkan kebutuhan, minat dan kebutuhan siswa. Dalam pendekatan ini lebih banyak digunakan metode dalam rangka individualisasi pembelajaran. Seperti belajar mandiri, belajar modular, paket belajar dan sebagainya.
3)      Pendekatan yang berorientasi pada kehidupan masyarakat. Pendekatan ini bertujuan mengintegrasikan sekolah dan masyarakat. Prosedur yang ditempuh ialah dengan mengundang masyarakat ke sekolah atau siswa berkunjung ke masyarakat. Metode yang digunakan terdiri dari : karyawisata, nara sumber, kerja pengalaman, survey, proyek pengabdian/ pelayanan masyarakat, berkemah dan unit.[11]
          Pada mulanya istilah strategi digunakan dalam dunia militer yang diartikan sebagai cara penggunaan seluruh kekuatan militer untuk memenangkan suatu peperangan. Seseorang yang berperan dalam mengatur strategi, untuk memenangkan peperangan sebelum melakukan suatu tindakan, ia akan menimbang bagaimana kekuatan pasukan yang dimilikinya baik dilihat dari kuantitas maupun kualitas; misalnya kemampuan setiap personal, jumlah dan kekuatan persenjataan, motivasi pasukannya, dan lain sebagainya. Selanjut ia juga akan mengumpulkan informasi tentang kekuatan lawan, baik jumlah prajuritnya maupun keadaan persenjataannya. Setelah semuanya diketahui, baru kemudian ia akan menyusun tindakan apa yang harus dilakukannya, baik tentang siasat peperangan yang harus dilakukan, tatik dan teknik peperangan, maupun waktu yang pas untuk melakukan suatu serangan, dan lain sebagainya. Dengan demikian dalam menyusun strategi perlu memperhitungkan berbagai factor, baik di dalam maupun diluar.[12]
           Demikian pula halnya seseorang pelatih sepakbola, ia akan menentukan strategi yang dianggapnya tepat untuk memenangkan suatu pertandingan setelah ia memahami segala potensi yang dimiliki tim-nya. Apakah ia akan melakukan strategi menyerang dengan pola 2-3-5 misalnya, atau strategi bertahan dengan pola 5-3-2, semuanya sangat tergantung kepada kondisi tim yang dimilikinya serta kekuatan tim lawannya.[13]

4.      Komponen Evaluasi
 Evaluasi merupakan suatu komponen dalam sistem pengajaran, sedangkan sistem pengajaran itu sendiri merupakan implementasi kurikulum, sebagai upaya untuk menciptakan belajar di kelas. Fungsi utama evaluasi dalam kelas adalah untuk menentukan hasil-hasil urutan pengajaran. Hasil-hasil yang dicapai langsung bertalian dengan penguasaan tujuan-tujuan yang menjadi target. Selain dari itu, evaluasi juga berfungsi menilai unsur-unsur yang relavan pada urutan perencanaan dan pelaksanaan pengajaran. Itu sebabnya, evaluasi menempati kedudukan penting dalam rancangan kurikulum dan rancangan pengajaran dan oleh karenanya perlu dibahas secara khusus data uraiannya.[14]
Pada bagian lain, dikatakan bahwa luas atau tidaknya suatu program evaluasi kurikulum sebenarnya ditentukan oleh tujuan diadakannya evaluasi kurikulum. Apakah evaluasi tersebut ditujukan untuk mengevaluasi keseluruhan sistem kurikulum atau komponen-komponen tertentu saja dalam sistem kurikulum tersebut. Salah satu komponen kurikulum penting yang perlu dievaluasi adalah berkenaan dengan proses dan hasil belajar siswa. Evaluasi kurikulum memegang peranan penting, baik untuk penentuan kebijakan pendidikan pada umumnya maupun untuk pengambilan keputusan dalam kurikulum itu sendiri. Hasil-hasil evaluasi kurikulum dapat digunakan oleh para pemegang kebijakan pendidikan dan para pengembang kurikulum dalam memilih dan menetapkan kebijakan pengembangan sistem pendidikan dan pengembangan model kurikulum yang digunakan.[15]
            Hasil-hasil evaluasi kurikulum juga dapat digunakan oleh guru-guru, kepala sekolah dan para pelaksana pendidikan lainnya dalam memahami dan membantu perkembangan peserta didik, memilih bahan pelajaran, memilih metode dan alat-alat bantu pelajaran, cara penilaian serta fasilitas pendidikan lainnya.[16]





BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan

            Kurikulum sebagai suatu sistem keseluruhan memiliki komponen-komponen yang saling berkaitan antara yang satu dengan yang lain yakni: tujuan, isi/ materi, strategi pelaksanaan, dan komponen evaluasi.Maka hal ini berarti bahwa sebagai alat pendidikan kurikulum memiliki bagian-bagian penting dan penunjang yang dapat mendukung operasinya secara baik. Bagian-bagian ini disebut komponen. Kurikulum sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan memiliki komponen pokok dan komponen penunujang yang saling berkaitan, berinteraksi dalam rangka dukungannya untuk mencapai tujuan itu.
B.     Saran
 Bagi para penuntut ilmu ketahuilah bahwa, kajian bidang komponen-komponen kurikulum adalah merupakan bidang yang sangat penting dalam konteks pengajaran. Untuk itu, dalam rangka menyiapkan diri menjadi tenaga kependidikan yang profesional maka perlu menguasai bidang komponen-komponen kurikulum tersebut, agar kita menjadi tenaga pengajar yang baik, bermutu dan bermamfaat bagi orang lain.





DAFTAR PUSTAKA

Oemar hamalik. 2009. Kurikulum Dan Pembelajaran, Jakarta: Bumi Aksara.
            Grafika Offset.
2010. Proses Belajar Mengajar, Jakarta: Bumi Aksara, Grafika  Offset.
Khoiron Rosyadi. 2004. Pendidikan Profetik, Yogyakarta: Pustaka Pelajar,             Celeban Timur.
Sanjaya. 2008. Strategi Pembelajaran. Jakarta Kencana: Perpustakaan Nasional.
Dinata,  Nana Syaodih Sukma. 2005. Pengembangan Kurikulum Teori dan
            Praktek. Bandung : Remaja Rosdakarya Offset.



[1] Oemar Hamalik. Kurikulum Dan Pembelajaran, (Jakarta: Bumi Aksara, 2009). Hal. 24
[2] Oemar Hamalik. Kurikulum Dan………., hal. 24
[3] Oemar Hamalik. Kurikulum dan………., hal. 25
[4] Oemar Hamalik. Kurikulum Dan.……..., hal. 25
[5]Khoiron Rosyadi. Pendidikan Profetik, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004). hal. 276
[6] Khoiron Rosyadi. Pendidikan………., hal. 276
[7] Khoiron Rosyadi. Pendidikan………., hal. 276-278
[8] Oemar Hamalik. Kurikulum dan………., hal. 25
[9] Oemar Hamalik. Kurikulum Dan………., hal. 25-26
[10] Oemar Hamalik. Kurikulum Dan………., hal. 26
[11] Oemar Hamalik. Kurikulum Dan………., hal. 26-27
[12] Sanjaya, Strategi Pembelajaran, (Jakarta: Pustaka Kencana, 2008). hal. 125
[13] Sanjaya, strategi………., hal. 125
[14] Oemar Hamalik. Proses belajar mengajar………., hal. 145
[15] Dinata, Nana Syaodih Sukma. Pengembangan Kurikulum Teori dan Prakek, (bandung: Remaja Rosdakarya Offset, 2005), hal.
[16]Dinata,  Nana Syaodih Sukma. Pengembangan Kurikulum………., hal.