Kamis, 27 Desember 2012

Komponen-Komponen Kurikulum


BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang
           Kurikulum merupakan alat atau kunci dalam prosess pendidikan formal.Tidak mengherankan apabila alat ini selalu dirombak atau ditinjau kembali untuk mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan zaman. Oleh sebab itu kurikulum juga harus selalu berkembang.Istilah pengembangan menunjuk pada suatu kegiatan menghasilkan suatu alat atau cara baru, dimana selama kegiatan tersebut penilaian dan penyempurnaan terhadap alat atau cara tersebut terus dilakukan. Bila setelah mengalami penyempurnaan-penyempurnaan akhirnya alat atau cara tersebut dipandang cukup mantap untuk digunakan seterusnya, maka berakhirlah kegiatan pengembangan tersebut. Kegiatan pengembangan kurikulum mencakup penyusunan kurikulum itu sendiri, pelaksanaan di sekolah-sekolah yang disertai dengan penilaian intensif.




BAB II
PEMBAHASAN

A.     Komponen-Komponen Kurikulum
         Fungsi kurikulum dalam proses pendidikan adalah sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan. Maka hal ini berarti bahwa sebagai alat pendidikan kurikulum memiliki bagian-bagian penting dan penunjang yang dapat mendukung operasinya secara baik.Bagian-bagian ini disebut komponen.Kurikulum sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan memiliki komponen pokok dan komponen penunjang yang saling berkaitan, berinteraksi dalam rangka dukungannya untuk mencapai tujuan itu. Komponen pokok kurikulum adalah sebagai berikut:[1]

1.      Komponen Tujuan
           Kurikulum merupakan suatu program yang dimaksudkan untuk mencapai tujuan pendidikan.Tujuan itulah yang dijadikan arah atau acuan segala kegiatan pendidikan yang dijalankan.Berhasil atau tidaknya program pengajaran di Sekolah dapat diukur dari seberapa jauh dan banyaknya pencapaian tujuan-tujuan tersebut. Dalam setiap kurikulum lembaga pendidikan, pasti dicantumkan tujuan-tujuan pendidikan yang akan atau harus dicapai oleh lembaga pendidikan yang bersangkutan. Kurikulum menyediakan kesempatan yang luas bagi peserta didik untuk mengalami proses pendidikan nasional khususnya dan sumber daya manusia yang berkualitas umumnya. Tujuan ini dikatagorikan sebagai tujuan umum kurikulum.[2]
Tujuan mata pelajaran. Mata pelajaran dikelompokkan menjadi beberapa bidang studi, yaitu:
a)      Bidang studi bahasa dan seni.
b)      Bidang studi ilmu pengetahuan sosial.
c)      Bidang studi ilmu pengetahuan alam.
d)     Bidang studi pendidikan jasmani dan kesehatan.
Setiap bidang studi meliputi sejumlah mata pelajaran tertentu.Misalnya bidang studi IPS, terdiri dari mata pelajaran ekonomi, sosiologi, geografi, sejarah dan lain-lain.Setiap mata pelajaran mempunyai tujuan sendiri dan berbeda dengan tujuan yang hendak dicapai oleh mata pelajaran lainnya.Tujuan mata pelajaran merupakan penjabaran dari tujuan kurikulum dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional.[3] Sebagai contoh, kita pilih tujuan mata pelajaran berhitung, sebagai berikut:
a)      Menanamkan, memupuk, dan mengembangkan pengetahuan dan kecakapan dasar berhitung yang praktis.
b)      Menanamkan, memupuk, dan mengembangkan berpikir logis dan kritis dalam pola berpikir abstrak, sehingga mampu memecahkan soal-soal yang dihadapinya dalam kehidupan sehari-hari.
c)      Menanamkan, memupuk, dan mengembangkan kemampuan untuk hemat dan pandai menghargai waktu, rasional, ekonomis.
d)     Menanamkan, memupuk, dan mengembangkan sikap gotong royong, jujur, serta percaya kepada diri sendiri.[4]
            Komponen tujuan mengarahkan atau menunjukan sesuatu yang hendak dituju dalam proses belajar mengajar. Tujuan itu mula-mula bersifat umum. Dalam operasionalisasinya tujuan tersebut harus dibagi menjadi bagian-bagian yang kecil. Ada dua jenis tujuan yang terkandung di dalam kurikukum suatu sekolah, yaitu:
         I.            Tujuan yang ingin di capai oleh sekolah secara keseluruhan sebagai lembaga pedidikan, setiap sekolah mempunyai sejumlah tujuan yang ingin dicapai. Tujuan-tujuan tersebut biasanya digambarkan dalam bentuk pengetahuan, ketrampilan, dan sikap yang kita harapkan dimiliki anak didik setelah mereka menyelesaikan seluruh program pendidikan dari sekolah tersebut.
      II.            Tujuan yang dicapai dalam setiap bidang studi. Tujuan-tujuan setiap bidang studi dalam kurikulum suatu sekolah tertentu ada yang disebut tujuan kurikuler dan instruksional merupakan penjabaran lebih lanjut dari tujuan kurikuler. Atas dasar tujuan kurikuler dan instruksional itulah kemudian ditetapkan bahan pengajaran yang diajarkan dalam setiap bidang studi pada suatu sekolah tertentu.[5]

2.      Komponen Isi / Materi
    Isi program kurikulum adalah segala sesuatu yang diberikan kepada anak didik dalam kegiatan belajar mengajar dalam rangka mencapai tujuan.Materi kurikulum pada hakikatnya adalah isi kurikulum. Dalam undang-undang pendidikan tentang sistem pendidikan nasional telah ditetapkan bahwa; “ isi kurikulum merupakan bahan kajian dan pelajaran untuk mencapai tujuan penyelenggaraan satuan yang bersangkutan dalam rangka upaya pencapaian tujuan pendidikan nasional” (bab IX, pasal 39).[6] Sesuai dengan rumusan tersebut, isi kuruikulum di kembangkan dan disusun berdasarkan prinsip-prinsip sebagai berikut:
1)      Materi kurikulum berupa bahan pembelajaran yang terdiri dari bahan kajian atau topik-topik pelajaran yang dapat dikaji oleh siswa dalam proses belajar dan pembelajaran.
2)      Materi kurikulum mengacu pada pencapaian tujuan masing-masing satuan pendidkan. Perbedaan dalam ruang lingkup dan urutan bahan pelajaran disebabkan oleh perbedaan tujuan satuan pendidikan tersebut.
3)      Meteri kurikulum diarahkan untuk mencapai tujuan pendidikan nasional: dalam hal ini, tujuan pendidikan nasional merupakan target tertinggi yang hendak dicapai melalui penyampaian materi kurikulum.[7]
Isi kurikulum meliputi jenis-jenis bidang studi yang diajarkan dan isi program masing-masing bidang studi tersebut. Bidang-bidang studi tersebut disesuaikan dengan jenis, jenjang maupun jalur pendidikan yang ada.[8]
Kriteria yang dapat membantu pada perancangan kurikulum dalam menentukan isi kurikulum. Kriteria itu antara lain:
a)      Isi kurikulum harus sesuai, tepat dan bermakna bagi perkembangan siswa.
b)      Isi kurikulum harus mencerminkan kenyataan sosial.
c)      Isi kurikulum harus mengandung pengetahuan ilmiah yang tahan uji.
d)     Isi kurikulum mengandung bahan pelajaran yang jelas.
e)      Isi kurikulum dapat menunjanga tercapainya tujuan pendidikan.[9]

3.      Komponen Strategi Pelaksanaan
           Strategi adalah cara yang digunakan untuk menyampaikan materi pelajaran dalam upaya mencapai tujuan kurikulum. Suatu strategi mengandung pengertian telaksananya kegiatan guru dan kegiatan siswa dalam proses pembelajaran. Strategi dilaksanakan melalui prosedur tertentu. Dewasa ini, keaktifan siswa belajar mendapat tekanan utama dibandingkan dengan keaktifan siswa yang bertindak sebagai fasililator dan pembimbing bagi siswa. Karena itu, istilah strategi pembelajaran yang lebih menekankan pada kegiatan siswa, selanjutnya di gantikan dengan istilah metode yang menekankan pada kegiatan guru.[10] Strategi atau metode menempati fungsi yang penting dalam kurikulum, karena memuat tugas-tugas yang perlu dikerjakan oleh siswa dan guru, karena itu, penyesunannya hendaknya berdasarkan analisa tugas yang mengacu pada tujuan kurikulum dan berdasarkan perilaku awal siswa. Dalam hubungan ini, ada tiga alternative pendekatan yang dapat digunakan, yakni :
1)      Pendekatan yang berpusat pada mata pelajaran, dimana materi pembelajaran terutama bersumber dari mata ajaran. Penyampaian dilakukan melalui komunikasi antar guru dan siswa. Guru sebagai penyampaian pesan atau komunikator. Siswa sebagai penerima pesan. Bahan pelajaran adalah pesan itu sendiri. Dalam rangkaian komunikasi tersebut dapat digunakan berbagai metode mengajar.
2)      Pendekatan yang berpusat pada siswa. Pembelajaran dilaksanakan berdasarkan kebutuhan, minat dan kebutuhan siswa. Dalam pendekatan ini lebih banyak digunakan metode dalam rangka individualisasi pembelajaran. Seperti belajar mandiri, belajar modular, paket belajar dan sebagainya.
3)      Pendekatan yang berorientasi pada kehidupan masyarakat. Pendekatan ini bertujuan mengintegrasikan sekolah dan masyarakat. Prosedur yang ditempuh ialah dengan mengundang masyarakat ke sekolah atau siswa berkunjung ke masyarakat. Metode yang digunakan terdiri dari : karyawisata, nara sumber, kerja pengalaman, survey, proyek pengabdian/ pelayanan masyarakat, berkemah dan unit.[11]
          Pada mulanya istilah strategi digunakan dalam dunia militer yang diartikan sebagai cara penggunaan seluruh kekuatan militer untuk memenangkan suatu peperangan. Seseorang yang berperan dalam mengatur strategi, untuk memenangkan peperangan sebelum melakukan suatu tindakan, ia akan menimbang bagaimana kekuatan pasukan yang dimilikinya baik dilihat dari kuantitas maupun kualitas; misalnya kemampuan setiap personal, jumlah dan kekuatan persenjataan, motivasi pasukannya, dan lain sebagainya. Selanjut ia juga akan mengumpulkan informasi tentang kekuatan lawan, baik jumlah prajuritnya maupun keadaan persenjataannya. Setelah semuanya diketahui, baru kemudian ia akan menyusun tindakan apa yang harus dilakukannya, baik tentang siasat peperangan yang harus dilakukan, tatik dan teknik peperangan, maupun waktu yang pas untuk melakukan suatu serangan, dan lain sebagainya. Dengan demikian dalam menyusun strategi perlu memperhitungkan berbagai factor, baik di dalam maupun diluar.[12]
           Demikian pula halnya seseorang pelatih sepakbola, ia akan menentukan strategi yang dianggapnya tepat untuk memenangkan suatu pertandingan setelah ia memahami segala potensi yang dimiliki tim-nya. Apakah ia akan melakukan strategi menyerang dengan pola 2-3-5 misalnya, atau strategi bertahan dengan pola 5-3-2, semuanya sangat tergantung kepada kondisi tim yang dimilikinya serta kekuatan tim lawannya.[13]

4.      Komponen Evaluasi
 Evaluasi merupakan suatu komponen dalam sistem pengajaran, sedangkan sistem pengajaran itu sendiri merupakan implementasi kurikulum, sebagai upaya untuk menciptakan belajar di kelas. Fungsi utama evaluasi dalam kelas adalah untuk menentukan hasil-hasil urutan pengajaran. Hasil-hasil yang dicapai langsung bertalian dengan penguasaan tujuan-tujuan yang menjadi target. Selain dari itu, evaluasi juga berfungsi menilai unsur-unsur yang relavan pada urutan perencanaan dan pelaksanaan pengajaran. Itu sebabnya, evaluasi menempati kedudukan penting dalam rancangan kurikulum dan rancangan pengajaran dan oleh karenanya perlu dibahas secara khusus data uraiannya.[14]
Pada bagian lain, dikatakan bahwa luas atau tidaknya suatu program evaluasi kurikulum sebenarnya ditentukan oleh tujuan diadakannya evaluasi kurikulum. Apakah evaluasi tersebut ditujukan untuk mengevaluasi keseluruhan sistem kurikulum atau komponen-komponen tertentu saja dalam sistem kurikulum tersebut. Salah satu komponen kurikulum penting yang perlu dievaluasi adalah berkenaan dengan proses dan hasil belajar siswa. Evaluasi kurikulum memegang peranan penting, baik untuk penentuan kebijakan pendidikan pada umumnya maupun untuk pengambilan keputusan dalam kurikulum itu sendiri. Hasil-hasil evaluasi kurikulum dapat digunakan oleh para pemegang kebijakan pendidikan dan para pengembang kurikulum dalam memilih dan menetapkan kebijakan pengembangan sistem pendidikan dan pengembangan model kurikulum yang digunakan.[15]
            Hasil-hasil evaluasi kurikulum juga dapat digunakan oleh guru-guru, kepala sekolah dan para pelaksana pendidikan lainnya dalam memahami dan membantu perkembangan peserta didik, memilih bahan pelajaran, memilih metode dan alat-alat bantu pelajaran, cara penilaian serta fasilitas pendidikan lainnya.[16]





BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan

            Kurikulum sebagai suatu sistem keseluruhan memiliki komponen-komponen yang saling berkaitan antara yang satu dengan yang lain yakni: tujuan, isi/ materi, strategi pelaksanaan, dan komponen evaluasi.Maka hal ini berarti bahwa sebagai alat pendidikan kurikulum memiliki bagian-bagian penting dan penunjang yang dapat mendukung operasinya secara baik. Bagian-bagian ini disebut komponen. Kurikulum sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan memiliki komponen pokok dan komponen penunujang yang saling berkaitan, berinteraksi dalam rangka dukungannya untuk mencapai tujuan itu.
B.     Saran
 Bagi para penuntut ilmu ketahuilah bahwa, kajian bidang komponen-komponen kurikulum adalah merupakan bidang yang sangat penting dalam konteks pengajaran. Untuk itu, dalam rangka menyiapkan diri menjadi tenaga kependidikan yang profesional maka perlu menguasai bidang komponen-komponen kurikulum tersebut, agar kita menjadi tenaga pengajar yang baik, bermutu dan bermamfaat bagi orang lain.





DAFTAR PUSTAKA

Oemar hamalik. 2009. Kurikulum Dan Pembelajaran, Jakarta: Bumi Aksara.
            Grafika Offset.
2010. Proses Belajar Mengajar, Jakarta: Bumi Aksara, Grafika  Offset.
Khoiron Rosyadi. 2004. Pendidikan Profetik, Yogyakarta: Pustaka Pelajar,             Celeban Timur.
Sanjaya. 2008. Strategi Pembelajaran. Jakarta Kencana: Perpustakaan Nasional.
Dinata,  Nana Syaodih Sukma. 2005. Pengembangan Kurikulum Teori dan
            Praktek. Bandung : Remaja Rosdakarya Offset.



[1] Oemar Hamalik. Kurikulum Dan Pembelajaran, (Jakarta: Bumi Aksara, 2009). Hal. 24
[2] Oemar Hamalik. Kurikulum Dan………., hal. 24
[3] Oemar Hamalik. Kurikulum dan………., hal. 25
[4] Oemar Hamalik. Kurikulum Dan.……..., hal. 25
[5]Khoiron Rosyadi. Pendidikan Profetik, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004). hal. 276
[6] Khoiron Rosyadi. Pendidikan………., hal. 276
[7] Khoiron Rosyadi. Pendidikan………., hal. 276-278
[8] Oemar Hamalik. Kurikulum dan………., hal. 25
[9] Oemar Hamalik. Kurikulum Dan………., hal. 25-26
[10] Oemar Hamalik. Kurikulum Dan………., hal. 26
[11] Oemar Hamalik. Kurikulum Dan………., hal. 26-27
[12] Sanjaya, Strategi Pembelajaran, (Jakarta: Pustaka Kencana, 2008). hal. 125
[13] Sanjaya, strategi………., hal. 125
[14] Oemar Hamalik. Proses belajar mengajar………., hal. 145
[15] Dinata, Nana Syaodih Sukma. Pengembangan Kurikulum Teori dan Prakek, (bandung: Remaja Rosdakarya Offset, 2005), hal.
[16]Dinata,  Nana Syaodih Sukma. Pengembangan Kurikulum………., hal. 

Tidak ada komentar: