Kamis, 27 Desember 2012

Sejarah Metode Ilmiah Empiris (tajribiyah)

BAB I
PENDAHULUAN

      
A.    Latar Belakang
Di era modern sekarang, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat pesat serta menyentuh pada semua aspek kehidupan manusia tak terkecuali di bidang pendidikan dan pengajaran. Pemerintah dewasa ini khususnya Kementrian Pendidikan Nasional berusaha untuk meningkatkan mutu pendidikan seperti yang telah digariskan dalam UU. SISDIKNAS No. 20 Tahun 2003 bahwa:
 “Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Untuk mencapai tujuan tersebut maka pemerintah telah mengusahan peningkatan mutu pendidikan mulai dari tingkat pendidikan dasar sampai ke tingkat perguruan tinggi. Selain itu, juga dilakukan usaha-usaha seperti penataran guru-guru bidang studi, pengadaan buku-buku paket, dan menambah sarana dan prasarana untuk kegiatan proses belajar mengajar. Peningkatan mutu pendidikan sangat ditentukan oleh guru sebagai pendidik dalam pencapaian tujuan pendidikan yang diharapkan. Dengan kata lain guru menempati titik sentral pendidikan. Agar guru mampu menunaikan tugasnya dengan baik, maka terlebih dahulu harus memahami hal-hal yang berhubungan dengan proses belajar mengajar seperti halnya proses pendidikan pada umumnya. Dengan demikian peranan guru yang sangat penting adalah mengaktifkan dan mengefisienkan proses belajar di sekolah termasuk didalamnya penggunaan metode mengajar yang sesuai.


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Metode Empiris (Tajribiyah)
          Metode Empiris (Tajribiyah) adalah suatu metode yang memungkinkan peserta didik mempelajari ajaran islam melalui proses realisasi, aktualiasi,serta internalisasi norma-norma dan kaidah islam melalui proses aplikasi yang menimbulkan suatu interaksi sosial. Kemudian secara deskriptif, proses-proses interaksi dapat dirumuskan dalam suatu sistim norma baru. Keuntungan metode ini adalah peserta didik tidak hanya memiliki kemampuan secara teorites-normatife, tetapi juga adanya pengembangan deskriptif inovasi beserta aplikasinya dalam kehidupan sosial yang nyata.[1]
Dalam penggunaan metode Empiris (tajribiyah) dalam pendidikan Islam yang perlu dipahami adalah bagaimana seorang pendidik dapat memahami hakikat metode dan relevansinya dengan tujuan utama pendidikan Islam, yaitu membentuk pribadi yang beriman yang senantiasa siap sedia mengabdi kepada Allah SWT. Disamping itu, pendidik perlu memahami metode-metode intruksional yang aktual yang ditunjukan dalam Al Qur’an atau yang dideduksikan dari Al Qur’an dan dapat memberi motifasi dan disiplin atau dalam istilah Al Qur’an disebut dengan pemberian anugrah (Tsawab) dalam hukuman (’Iqab).[2] Selain kedua hal tersebut, bagaimana seorang pendidik dapat mendorong peserta didiknya untuk menggunakan akal pikiranya dalam menelaah dan mempelajari gejala kehidupannya sendiri dan alam sekitarnya, hal ini seperti yang dijelaskan dalam firman Allah :
          “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa Sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu”.  (Q.S. Fushilat : 53)
          Mendorong peserta didik untuk mengamalkan ilmu pengetahuannya dan mengaktualisasikan keimanan dan ketakwaannya dalam kehidupan sehari-hari. Seperti dalam firman Allah :
          “Bacalah apa yang Telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan Dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. dan Sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS. Al-Ankabut : 45)
        Seorang pendidik pun perlu mendorong peserta didik menyelidiki dan meyakini bahwa islam merupakan kebenaran yang sesungguhnya, serta memberi peserta didik dengan praktik amaliah yang benar serta pengetahuan dan kecerdasan yang cukup.[3]
Metode problem solving dan metode empiris menggunakan asumsi dasar sebagai berikut :
a)      Norma (ketentuan) kebajikan dan kemungkaran selalu ada dan diterangkan dalam Islam (Q.S. Ali Imran : 104)
b)      Ajaran Islam merupakan jalan untuk menuju ridla Allah SWT (Q.S. Al-Fath : 29).
c)      Ajaran Islam merupakan risalah atau pedoman hidup di dunia dan akhirat (Q.S. Al-Syura : 13).
d)       Ajaran Islam sebagai sumber ilmu pengetahuan (Q.S. Al-Baqarah :120 dan Al-Taubah :122).[4]

1.      Sejarah Metode Ilmiah Empiris (tajribiyah)
Empirisme bisa dikatakan menjadi karakter bawaan manusia yang mereka berbagi dengan hewan. Manusia selalu ingin mengetahui penjelasan tentang fenomena alam dan apa yang berhubungan satu aktivitas yang lain. Dengan tidak adanya pengetahuan empiris atau wahyu mereka kadang-kadang terpaksa takhayul. Tidak mudah memberikan kredit untuk penemuan metode empiris. Bukti yang ada menunjukkan bahwa umat Islam para ilmuwan di era keemasan Islam adalah pelopor yang sistematis, penggunaan metode empiris. Hitti, William Smith, George Sarton menyimpulkan bahwa itu adalah Muslim yang pertama kali menggunakan eksperimen dan observasi secara sistematis.[5]
Ilmu pengetahuan Yunani adalah bersifat terkaan dan hipotesis. Yunani lebih suka penalaran dan dipandang rendah pengetahuan persepsi. Mereka akan menghabiskan tahun di lengan kursi confortble alasan mereka bukannya pergi keluar ruangan dan membuat observasi atau membuat percobaan sederhana untuk menutup masalah ini. Aristoteles misalnya tidak pernah berpikir untuk menguji teori tentang kecepatan jatuhnya benda berat dan ringan.
          Dr Sulaiman Daud menyimpulkan setelah analisis dari tulisan-tulisan Muslim dan Eropa bahwa Muslim adalah yang pertama untuk mengkritik logika Yunani (al qiyaas al Mantiqi) dan bahwa mereka adalah yang pertama untuk mengembangkan metodologi empiris yang lengkap dalam bentuk qiyaas usuuli.
Allama Muhammad Iqbal dalam 'Rekonstruksi Pemikiran Agama dalam Islam "-nya berpendapat bahwa metode empiris bukanlah penemuan Eropa. Dia mengutip kontribusi oleh: Ghazali, Ishraqi, Ibnu Taymiyyat, Abubakar Al Razi, dan Ibnu Hazm. Pelopor lain dari metode empiris adalah: Ibnu Sina, Al Biruni, Al Kindi (w. 260 H), Jabir Ibnu Hayyan (wafat 200 H), Ibnu Haytham (wafat 340 H), al Khawarizmi (w. 387 H) . Sejarah Eropa ascribes 'penemuan' metode empiris untuk Roger Bacon (1561-1626 M). Menurut Prantl, Roger Bacon belajar metode empiris dari Arab. Uni Eropa Lainnya pelopor metode seperti San Simon 1760-1825 CE, Agustus Kant 1798-1857 M, Emile Durkheim 1858-1917 CE dibangun pada ide-ide Bacon.[6]
Al-Qur'an adalah inspirasi metodologis untuk ilmuwan Muslim. Al-Qur'an, hadits, dan ushul al fiqh adalah ilmu warisan intelektual kaya di mana para ilmuwan muslim dibangun metodologi mereka. Mereka belajar dari dan meningkatkan ilmu pengetahuan Yunani. Mereka memelopori metodologi empiris dan dikirim ke Eropa sebelum kebangkitan itu. Eropa disalin metode empiris tetapi tidak konteksnya maka penyalahgunaan mereka metode ini. Pengembangan metodologi dalam ilmu empiris dalam umat telah mengalami stagnasi selama berabad-abad. Metodologi Eropa bias dikenakan pada dunia Muslim selama 2 abad terakhir dengan klaim bahwa itu adalah satu-satunya sumber pengetahuan yang valid. Banyak Muslim tidak menyadari warisan mereka telah menerima ini.

2.      Ibn Hytham Dan Penggunaan Metode Empiris  
Penyelidikan ilmiah dimulai dengan perumusan hipotesis. Hipotesis diuji dengan observasi empiris dan pemotongan / induksi yang dibuat.
Ibnu Haytham, di 'Kitab Optik' nya kitaab al Manzir mengilustrasikan penggunaan metode empiris. Dia melakukan banyak percobaan dan menafsirkan temuan. Dia menyadari pentingnya matematika. Dia menggunakan kombinasi dari logika induktif dan deduktif. Dalam logika induktif pengamatan adalah umum dalam bentuk sebuah hipotesis yang dapat diuji secara empiris. Dalam logika deduktif, hipotesis diverifikasi eksperimental dan temuan yang digunakan untuk menafsirkan fakta-fakta lain berdasarkan hipotesis. Induksi biasanya diikuti dengan deduksi.
Ibnu Hytham membentuk hipotesis dalam 2 cara:
a)      dengan pengamatan fenomena alam misalnya dia melihat sinar yang melewati lubang memiliki bentuk lubang yang terbentuk dan karena itu hipotesis bahwa cahaya perjalanan di garis lurus.
b)      dengan analogi misalnya bulan mendapat cahaya dari matahari; bintang dengan analogi mendapatkan cahaya dari matahari.
Untuk memverifikasi hipotesis tentang bintang-bintang di atas, Ibnu Hytham membuat pengamatan bahwa tidak seperti bulan, bentuk dari bintang-bintang tidak berubah dengan jarak dari matahari. Dia menyimpulkan bahwa bintang-bintang memancarkan cahaya mereka sendiri.
Ibnu Hytham pindah dari eksperimen untuk menggeneralisasi dalam Perda dengan menyimpulkan bahwa:
a)      cahaya apapun jenis perjalanan di garis lurus.
b)       kejadian sinar, sinar yang dipantulkan, dan normal pada bidang yang sama.

B.     Dampaknya terhadap penyelenggaraan pendidikan Islam.
Rasionalisme maupun empirisme sudah sama-sama menjadi landasan perfikir para penyelenggaran pendidikan di negeri ini, semangat keduanya terlihat dari pelaksanaan pembelajaran yang banyak menitikberatkan pada kemampuan logika semata dan sedikit banyak mengenyampingkan potensi, talenta, motivasi, kemauan, kemampuan pesertadidik yang lainnya. Semangat pendidikan semacam itu merupakan turunan dari cara berfikir berbasis rasionalisme.[7]
Misalnya, dalam hal ini adalah kebijakan tentang UN, apakah persoalan hidup yang mereka hadapi hanya mampu dipecahkan dengan berbekal kemahiran mereka dalam menjawab soal-soal normatif diatas kertas. Peserta didik pada akhirnya miskin pengalaman atau belum banyak teruji di lapangan dan cendrung normatif serta tidak kreatif menghadapi persoalan hidup dan menyelesaikannya. Peserta didik kemudian berkembang tidak dengan seluruh potensi yang mereka miliki tetapi hanya berbekal logika tersebut, sebuah perkembangan yang timpang dan tidak utuh, hal ini tentu saja dilarang agama Islam yang melarang cara-cara seperti ini karena terlalu menyederhanakan ciptaanNYA yang mulia dan penuh potensi yang bernama manusia.
Adapun empirisme ekpresinya dapat kita temukan dari cara-cara pendidik untuk membuat pesertadidik belajar dengan menciptakan suasana atau lingkungan dan mendisiplinkan pikiran dan aktivitas mereka yang kecendrungannya memaksa mereka untuk kemudian mengikuti selera dan warna lingkungan yang telah tercipta sebelumnya. Sebuah cara berfikir yang tidak lagi sensitiv bahkan masabodoh terhadap potensi pesertadidik, mesin sudah dibuatkan tinggal memasukkan dan mencetak bahan-bahan yang akan diproses melalui mekanisme dan proses-proses yang telah dibuat sebelumnya.[8]



BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Dari pembahasan di atas ,dapat disimpulkan bahwa:  metode adalah suatu ilmu yang memberi penjelasan tentang sistem dan langkah yang harus ditempuh dalam mencapai suatu penyelidikan keilmuan.
Metode Empiris (Tajribiyah) adalah suatu metode yang memungkinkan peserta didik mempelajari ajaran islam melalui proses realisasi, aktualiasi,serta internalisasi norma-norma dan kaidah islam melalui proses aplikasi yang menimbulkan suatu interaksi sosial. Kemudian secara deskriptif, proses-proses interaksi dapat dirumuskan dalam suatu sistim norma baru. Keuntungan metode ini adalah peserta didik tidak hanya memiliki kemampuan secara teorites-normatife, tetapi juga adanya pengembangan deskriptif inovasi beserta aplikasinya dalam kehidupan sosial yang nyata.










DAFTAR PUTAKA

Tim Depag RI, 1984. Islam Untuk Disiplin Ilmu Pendidikan, Jakarta: P3AI-PTU
Terj. Arifin H M, 1991. Teori-teori pendidikan berdasarkan Al-Qur’an, Judul asli: Educational Theory A Qur’anic Out Look, Jakarta : Rineka Cipta.
Arifin H M, 1987. Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta : Bina Aksara.
Amin Abdullah, 2006. Islamic Studies di Perguruan Tinggi, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.





[1] Tim Depag RI. Islam Untuk Disiplin Ilmu Pendidikan, (Jakarta: P3AI-PTU, 1984), hal. 151
[2] Terj. Arifin H M.  Teori-teori pendidikan berdasarkan Al Qur’an, Judul asli : Educational Theory A Qur’anic Out Look, (Jakarta : Rineka Cipta, 1991), hal. 98.

[3] Arifin H M. Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta : Bina Aksara, 1987), hal. 118
[4] Tim Depag RI. Islam Untuk Disiplin Ilmu Pendidikan, (jakarta: P3AI-PTU, 1984), hal. 151
[5] Tim Depag RI. Islam Untuk Disiplin Ilmu Pendidikan, (Jakarta: P3AI-PTU, 1984), hal. 153
[6] Tim Depag RI. Islam Untuk Disiplin Ilmu Pendidikan, (Jakarta: P3AI-PTU, 1984), hal. 151

[7] Amin Abdullah. Islamic Studies di Perguruan Tinggi, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2006), hlm. 105
[8] Amin Abdullah. Islamic Studies di Perguruan Tinggi, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2006), hal. 105-106

Tidak ada komentar: