Selasa, 25 Desember 2012

Analisa Filsafat dan Masalah Kependidikan


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
             Berbicara tentang filsafat, kita harus tahu terlebih dahulu apa arti filsafat itu sendiri. Kata filsafat atau falsafat, berasal dari bahasa Yunani: philoshophia yang banyak diperoleh pengertian-pengertian, baik secara harfiah atau etimologi. Terdiri dari kata philos yang berarti cinta, gemar, suka dan kata sophia berarti pengetahuan, hikmah dan kebijaksanaan. filsafat menurut arti katanya dapat diartikan sebagai cinta, cinta kepada ilmu pengetahuan atau kebenaran, suka kepada hikmah juga kebijaksanaan.
Didalam filsafat pendidikan, akan kita jumpai berbagai macam hal baru yang tentunya akan menambah wawasan keilmuan kita. Dan didalam makalah yang singkat ini akan diterangkan mengenai pengertian filsafat, objek kajian filsafat, serta fungsi dan tugas filsafat pendidikan itu sendiri.

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Analisa Filsafat dan Masalah Kependidikan
Bagaimanapun sempitnya pengertian pendidikan, namun masalah pendidikan merupakan masalah yang berhubungan langsung dengan hidup dan kehidupan manusia. Pendidikan merupakan usaha dari manusia dewasa yang telah sadar akan kemanusiaannya, dalam membimbing, melatih, mengajar dan menanamkan nilai-nilai serta dasar-dasar pandangan hidup kepada generasi muda, agar nantinyamenjadi manusia yang sadar dan bertanggung jawab akan tugas-tugas hidupnya sebagai manusia, sesuai dengan sifat hakikat dan ciri-ciri kemanusiaannya. Dan pendidikan formal disekolah hanyalah bagian kecil saja daripadanya, tapi merupakan inti dan tidak biasa lepas  kaitannya dengan proses pendidikan secara keseluruhannya.
Dengan pengertian pendidikan yang luas, berarti baha masalah kependidikan pun mempunyai ruang lingkup yang luas pula, yang menyangkut seluruh aspek hidup dan kehidupan manusia. Memang diantara permasalahan kependidikan tersebut terdapat masalah yang sederhana yang menyangkut praktekdan pelaksanaan sehari-hari, tetapi banyak pula diantaranya yang menyangkut masalah yang bersifat mendasar dan mendalam, sehingga memerlukan bantuan ilmu-ilmu lain dan memecahkannya. Bahkan pendidikan juga memnghadapi persoalan-persoalan yang idak mungkindijawab dengan menggunakan analisa dan pemikiran yang mendalam, yaitu analisa filsafat.
Sebagai contoh, berikut ini akan dikemukakan beberapa masalah kependidikan yang memerlukan analisa filsafat dalam memahami dan memecahkannya, antara lain :[1]
1)      Masalah kependidikan pertama dan yang mendasaradalah tentang apakah hakikat pendidikan itu. Mengapa pendidikan itu harus ada pada manusiadan merupakan hakikat hidup manusia. Dan apa pula hakikat manusia itu, dan bagaimana hubungan antara pendidiksn dengan hidup dan kehidupan manusia.
2)      Apakah pendidikan itu berguna untuk membina kepribadian manusia. Apakah potensi hereditas yang menentukan kepribadian manusia itu, ataukah factor-faktor  yang berasal dari luar/ lingkungan yang baik, tetapi tidak berkembang dengan baik pula.
3)      Apakah sebenarnya tujuan pendidikan itu. Apakah pendidikan itu untuk individu, atau untuk kepentingan masyarakat. Apakah pendidikan itu dipusatkan untuk membina kepribadian manusia ataukah untuk pembinaan masyarakat. Apakah pembinaan manusia itubsemata-mata untuk dan demi kehidupan riil dan materian didunia ini, ataukah untuk kehidupan kelak diakhirat yang kekal.
4)      Siapakah hakikatnya yang bertanggung jawab terhadap pendidikan itu,  dan sampai dimana tanggung jawab tersebut. Bagaimana hubungan tanggung jawab antara keluarga, masyarakat, dan sekolah terhadap pendidikan, dan bagaimana tanggung jawab pendidikan tersebut setelah manusia dewasa, dan sebagainya.
5)      Apakah hakikat manusia pribadi itu. Manakah yang lebih utama untuk dididik; akal, perasaan atau kemauannya, pendidikan jasmani atau pendidikan mentalnya, pendidikan skill ataukah intelektualnya, ataukah kesemuanya itu.
6)      Apakah isi kurikulum yang relavan dengan pendidikan yang ideal, apakah kurikulum yang mengutamakan pembinaan kepribadian dan sekaligus percakapan untuk memangku suatu jabatan dalam masyarakat, ataukah kurikulum yang luas dengan konsukuens yang kurang intensif penguasaannya dan bersifat praktis pula.
7)      Apakah hakikat manusia itu, bagaimana kedudukan individu dalam masyarakat, apakah individu itu independen ataukah dependen dalam masyarakat.
8)      Bagaimana pendidikan metoda yang efektif untuk mencapai tujuan pendidikan yang ideal, bagaimana kepemimpinannya dan pengaturan aspek-aspek social lainnya.
9)      Bagaimana asas penyelenggaraan pendidikan yang baik, apakah sentralisasi, ataukah ekonomi,  apakah oleh negara ataukah oleu swasta, dan sebagainya.
Problema-problema tersebut, merupakan sebagian dari contoh-contoh problematika pendidikan, yang dalam pemecahannya memerlukan usaha-usaha pemikiran yang mendalam dalam sistematis, atau analisa filsafat.dalam memecahkan masalah-masalah tersebut, analisa filsafat menggunakan berbagai macam pendekatan yang sesuai dengan permasalahannya.

B.     Pendidikan dan Filsafat Pendidikan
Pendidikan dalam arti umum mencakup segala usaha dan perbuatan dari generasi tua untuk mengalihkan peengalamannya, penetahuannya, kecakapannya serta keterampilannya kepada generasi muda untuk memungkinkannya melakukan fungsi hidupnya dalam pergaulan bersama, dengan sebaik-baiknya.
Corak pendidikan itu erat hubungannya dengan corak penghidupan, karenanya jika corak penghidupan itu berubah, berubah pulalah corak pendidikannya, agar sianak siap untuk memasuki lapangan penghidupan itu.
Pendidikan itu adalah suatu disiplin dari berbagai macam bagian komponen. Bagian-baian ini telah menjadi demikian berbagai macama ragam dan berspeliasasi, akak tetapi betapun juga, tidak selalu mengambil tempat yang sama besarnya didalam segala arah dan segi pada waktu yang sama. Metoda pengajaran atau susunan kurikulum umpamanya, telah mengalami perbaikan lebih jauh lebih banyak ddalam beberapa periode sejarah pendidikan daripada lain-lainnya. Barangkali sekarang ini, sebagaimana tidak pernah dimasa-masa sebelumnya , para siswa begitu tertarik dengan permasalahan-permasalahan yang secara terus menerus (kekal) bersangkutan dengan filsafat.
Tentu perlu diragukan lagi, bahwa berbagai macam factor telah menimbulkan hasil penelitian yang demikian itu. Pendidikan memang suatu usaha yang sulit dan rumit, dan memakan waktu yang cukup banyak dan lama, terutama sekali dimasa modern dewasa ini. Pendidikan menghendaki berbagai macam teori dan pemikiran dari para ahli pendidik dan ahli filsafat, guna melancarkan jalan danmemudahkan cara-cara bagi para guru dan pendidik dalam menyampaikan ilmu pengetahuan dan pengajaran kepada para siswa dan anak didik.

Perwujudan filsafat pendidikan yang dianut oleh guru tercermin dalam tiga konponen pendidikan, yaitu: [2]
a)      Perumusan Tujuan Pendidikan
Filsafat pendidikan yang dianut guru memperoleh bentuk yang lebih khusus dalam perumusan tujuan pendidikan. Tetapi yang lebih penting ialah bahwa tujuan umum itu merupakan titik kulminasi norma pendidikan. Artinya bahwa hasil-hasil pendidikan pada akhirnya harus dapat dinilai bdarii sudut titik kulminasi itu, yakni apakah tujuan yang dirumuskan telah mencapai atau belum. Jadi setiap guru akan secara khusus mempergunakan perumusan tujuan umum itu sebagai pedoman pelaksanaan kerjanya.
Tujuan–tujuan pendidikan yang indah tercantum pada kertas atau dalam buku tidak ada artinya kalau tidak diwujudkan.  Yang melaksanakannya ialah guru itu sendiri. Ia harus sanggup memasukkan tujuan pendiidikandalam segala pelajaran disekolah. Gurulah yang harus selalu mempunyai tujuan yang dengan segala pelajarannya yang membawa pesarta  didik kearah tujuan yang ditentukan oleh filsafat yang dianut. Hal ini memerlukan pemikiranyang mendalam serta usaha sadar. Dalam pada itu guru itu sendiri harus telah mewujudkan filsafat itu sendiri pada dirinya yang dinyatakannya dalam tindakannyya.
Walaupun ada ketentuan-ketentuan resmi yang berusaha memberikan pedoman untuk melaksanakan tujuan umum secara khusus, biasa tidaklah terdapat ketentuanpada taraf yang lebih terperinci, misalnya sampai pada yang harus di capai oleh seseorang guru pada setiap saat selama ia terlibat dalam kegiatan belajar mengajar.untuk yang terakhiir ini, diberikan hak dan dan kebijaksanaan seperti yang dinyatakan disisni, guru memerlukan suatu kemampuan menganalisa tujuan itu.
Memang, seseorang guru umumnya tidak perlu menyusun tujuan intruksional, karena paling tidak tujuan pendidikan nasionaltelah diresmikan oleh pemerintah didalam bentuk undang-undang itu saja tidak akan berarti apa-apa bagi setiap guru, apalagi pengertian itu tidak disertai dengan pengetahuan penentuan tujuan-tujuan khusus yang bersangkut paut dengan tugas sehari-hari. Bagaimana para guru menafsirkan dan menjabarkan tujuan itu, banyak tergantung pada kematangan pikiran, pengalaman dan filsafat hidup masing-masing guru,nberupa filsafat pendidikannya. Manusia seperti apa yang akan dibinanya, didasari oleh filsafat pendidikan yang dianutnya.

b)     Metode yang digunakan Guru Berpedoman pada Tujuan Pendidikan
Pada bagian terdahulu telah dikemukakan perwujudan filsafatyang dianut guru dalam perumusan tujuan pendidikan. Apabila sekali telah ditetapkan suatu tujuan khusus, maka persoalan selanjutnya bagi seorang guru adalah menetapkan suatu cara yang memberikan jaminan tertinggi akan tercapainya tujuan itu sebaik-baiknya. Apabila seorang guru sudah menyadari bahwa tujuan khusus yang akan dicapainya itu harus melalui proses dalam satu situasi, akan jelas bahwa untuk tujuan dan situsi yang khusus itu ia akan memakai cara tertentu, cara mana sangat mungkin tidak akan dipakainya untuk dan kondisi yang lain. Tegasnya bahwa didalam memilih metode yang wajar harus berpedoman antara lain pada tujuan khusus yang akan dicapainya. Hakikat tujuan inilah yang dipakai oleh guru sebagai petunjuk untuk memilih satu atau serangkaian metode yang efektif.
Sangat mungkin terjadi bahwa untuk satu tujuan dan situasi tertentu terbuka kemungkinan untuk berbagai cara serta kemungkinan  untuk memakai lebih dari sebuah cara sekaligus. Setiap metode mempunyai batas kebaikan dan kelemahan, buka saja terhadap tujuan terhadap tertentu, tetapi juga terhadap situasi tertentu. Malahan metode-metode yang sama dapat membuktikan efesiensi ditangan guru yang satu, tapi sama sekali gagal di tangan guru yang lain. Karena itu tidak dapat apriori ditetapkan kebaikan satu metode yang lain.
Berdasarkan kenyataan bahwa setiap metode dapat dipergunakan dengan baik di tangan guru yang arif, dapatlah di tetapkan hipotesa bahwa setiap orang guru metode-metode itu dapat itu dapat dipertinggi evektivitasnya dengan bernbagai teknis.
Dengan demikian seorang guru yang terdidik didalam tugasnya akan memiliki kemampuan dan ketrampilan menggunakan berbagai cara yang memungkinkan tercapainya pendidikan seoptimal mungkin, dengan dilandasi dan diwarnai oleh filsafat pendidikannya.

c)      Sistem Penilaian Pendidikan Guru Berpedoman pada Tujuan Pendidikan
Penilaian pendidikan dilakukan adalah untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan pendidikan itu telah terbukti. Untuk benar-benar memperoleh bukti-bukti yang dapat meyakinkan akan taraf  pencapai tujuan pendidikan melalui kegiatan perkuliahan , perlu diadakan suatu cara penilaian yang memenuhi masyarakat yang tepat.
Mengingat perumusan pengajaran pengajaran secara teknis sebagai perubahan tingkah laku yang terarahkan, pada akhir prose situ di perlukan data apakah perubahan tingkah laku telah terjelma atau belum, maka ini dapatmerupakan indikasi bagi guru maupun dari sudut peserta didik. Apabila telah dapat ditetapkan taraf pencapaian itu dengan memuaskan, dapatlah guru beranjak pada tujuan yang kedua dan seterusnya.
Dewasa ini, bukan saja prosedur penilaian sudah lebih maju danlebih baik ddari pemberian ulangan semata-mata, tetapi juga sikap dunia pendidikan terhadap arti penilaian  berubah. Menilai bukan lagi diadakan bukan lagi diadakan untuk mencari siapa yang bodoh dan siapa yang pandai diantara peserta didik; jadi bukan sekedar bersifat selektif dan diskriminasi, melainkan diintegrasikan sebagai bagian dari proses belajar. Penilaian bersifat edukatif.[3]
Di dalam cara penilaian penilaian pendidikan seperti dikemukakan diatas pandangan filsafat guru, dan berdasarkan filsafat pendidikan guru itu pula munculnya ide-ide mengenai cara penilaian yang tepat dan dapat dipertanggung jawabkan baik secara ilmiahmaupun secara moral.

C.    Masalah  Pokok Filsafat dan Pendidikan
Filsafat sebagai ilmu yang mengadakan tinjauan daan mempelajari obyeknya dari sudut hakikat juga mengadakan tinjauan dari segi sistematik, artinya tinjauan dengan memperoleh pandangan mengenai problem-problemnya yang utama dan lapangan penyelidikannya yang saling berhubungan.
Dalam tinjauan dai segi sistematik ini filsafat berhadapan dengan 3 (tiga) problem utama, yakni:[4]
1)      Realita, ialah mengenai kenyataan, yang selanjutnya menjurus kepada masalah kebenaran.
2)      Pengetahuan, yang berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti apa hak pengetahuan, cara manusia memperoleh dan menangkap pengetahuan itu, dan jenis-jenis pengetahuan.
3)      Nilai, yang dipelajari oleh cabang filsafat yang disebut aksiologi. Pertanyaan dicari jawabannya antara lain adalah seperti; nilai-nilai yang bagaimanakah yang dikehendaki noleh manusia dan yang dapat digunakan sebagai dasar hidupnya.

D.    Fungsi dan Tugas Filsafat Pendidikan
a)      Fungsi dan Tugas Filsafat Pendidikan
Sebagai ilmu, pendidikan Islam bertugas untuk memberikan penganalisaan secara mendalam dan terinci tentang problema-problema kependidikan Islam sampai kepada penyelesaiannya. Pendidikan Islam sebagai ilmu, tidak melandasi tugasnya pada teori-teori saja, akan tetapi memperhatikan juga fakta-fakta empiris atau praktis yang berlangsung dalam masyarakat sebagai bahan analisa. Oleh sebab itu, masalah pendidikan akan dapat diselasaikan bilamana didasarkan keterkaitan hubungan antara teori dan praktek, karena pendidikan akan mampu berkembang bilamana benar-benar terlibat dalam dinamika kehidupan masyarakat. Antara pendidikan dan masyarakat selalu terjadi interaksi (saling mempengaruhi) atau saling mengembangkan sehingga satu sama lain dapat mendorong perkembangan untuk memperkokoh posisi dan fungsi serta idealisasi kehidupannya. Ia memerlukan landasan ideal dan rasional yang memberikan pandangan mendasar, menyeluruh dan sistematis tentang hakikat yang ada dibalik masalah pendidikan yang dihadapi.
Dengan demikian filsafat pendidikan menyumbangkan analisanya kepada ilmu pendidikan Islam tentang hakikat masalah yang nyata dan rasional yang mengandung nilai-nilai dasar yang dijadikan landasan atau petunjuk dalam proses kependidikan.
Tugas filsafat adalah melaksanakan pemikiran rasional analisis dan teoritis (bahkan spekulatif) secara mendalam dan memdasar melalui proses pemikiran yang sistematis, logis, dan radikal (sampai keakar-akarnya), tentang problema hidup dan kehidupan manusia. Produk pemikirannya merupakan pandangan dasar yang berintikan kepada “trichotomi” (tiga kekuatan rohani pokok) yang berkembang dalam pusat kemanusiaan manusia (natropologi centra) yang meliputi:
Ø  Induvidualisme
Ø  Sosialitas
Ø  Moralitas
Ketiga kemampuan tersebut berkembang dalam pola hubungan tiga arah yang kita namakan “trilogi hubungan” yaitu:
a.       Hubungan dengan Tuhan, karena ia sebagai makhluk ciptaan-Nya.
b.      Hubungan dengan masyarakat karena ia sebagai masyarakat.
c.  Hubungan dengan alam sekitar karena ia makhluk Allah yang harus mengelola, mengatur,  memanfaatkan kekayaan alam sekitar yang terdapat diatas, di bawah dan di dalam perut bumi ini.

b)      Analisis Hubungan Filsafat dengan Pendidikan
Dalam berbagai bidang ilmu sering kita dengar istilah vertikal dan horisontal. Istilah ini juga akan terdengar pada cabang filsafat bahkan filsafat pendidikan.
Antara filsafat dan pendidikan terdapat hubungan horisontal, meluas kesamping yaitu hubungan antara cabang disiplin ilmu yang satu dengan yang lain yang berbeda-beda, sehingga merupakan synthesa yang merupakan terapan ilmu pada bidang kehidupan yaitu ilmu filsafat pada penyesuaian problema-problema pendidikan dan pengajaran. Filsafat pendidikan dengan demikian merupakan pola-pola pemikiran atau pendekatan filosofis terhadap permasalahan bidang pendidikan dan pengajaran.
Adapun filsafat pendidikan menunjukkan hubungan vertikal, naik ke atas atau turun ke bawah dengan cabang-cabang ilmu pendidikan yang lain, seperti pengantar pendidikan, sejarah pendidikan, teori pendidikan, perbandingan pendidikan dan puncaknya filsafat pendidikan. Hubungan vertikal antara disiplin ilmu tertentu adalah hubungan tingkat penguasaan atau keahlian dan pendalaman atas rumpun ilmu pengetahuan yang sejenis.[5]
Maka dari itu, filsafat pendidikan sebagai salah satu bukan satu-satunya ilmu terapan adalah cabang ilmu pengetahuan yang memusatkan perhatiannya pada penerapan pendekatan filosofis pada bidang pendidikan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan hidup dan penghidupan manusia pada umumnya dan manusia yang berpredikat pendidik atau guru pada khususnya.Dalam buku filsafat pendidikan karangan Prof. Jalaludin dan Drs. Abdullah Idi mengemukakan bahwa Jhon S. Brubachen mengatakan hubungan antara filsafat dan pendidikan sangat erat sekali antara yang satu dengan yang lainnya. Kuatnya hubungan tersebut disebabkan karena kedua disiplin tersebut menghadapi problema-problema filsafat secara bersama-sama.


BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Pendidikan itu adalah suatu disiplin dari berbagai macam bagian komponen. Bagian-baian ini telah menjadi demikian berbagai macama ragam dan berspeliasasi, akak tetapi betapun juga, tidak selalu mengambil tempat yang sama besarnya didalam segala arah dan segi pada waktu yang sama.
Tujuan–tujuan pendidikan yang indah tercantum pada kertas atau dalam buku tidak ada artinya kalau tidak diwujudkan.  Yang melaksanakannya ialah guru itu sendiri. Ia harus sanggup memasukkan tujuan pendiidikandalam segala pelajaran disekolah. Gurulah yang harus selalu mempunyai tujuan yang dengan segala pelajarannya yang membawa pesarta  didik kearah tujuan yang ditentukan oleh filsafat yang dianut. Hal ini memerlukan pemikiranyang mendalam serta usaha sadar. Dalam pada itu guru itu sendiri harus telah mewujudkan filsafat itu sendiri pada dirinya yang dinyatakannya dalam tindakannyya.


DAFTAR PUSTAKA

Amri Amsal. Studi Filsafat Pendidikan , Yayasan Pena. Banda Aceh: 2009
Munawwaroh, Djunaidatul dan Tanenji, Filsafat Pendidikan (perspektif islam dan umum), UIN Jakarta Press, Jakarta: 2003
Prasetya. Filsafat Pendidikan, Pustaka Setia, Bandung: 1997


[1] Prasetya. Filsafat Pendidikan, Pustaka Setia, Bandung: 1997. hal. 13
[2] Amsal Amri. Studi Filsafat Pendidikan,Banda Aceh. 2009. hal. 27
[3] Amsal Amri. Studi Filsafat Pendidikan,Banda Aceh. 2009. hal. 31
[4] Prasetya. Filsafat Pendidikan, Pustaka Setia, Bandung: 1997. hal. 36
[5] Munawwaroh, Djunaidatul dan Tanenji, Filsafat Pendidikan (perspektif islam dan umum), UIN Jakarta Press, Jakarta: 2003 hal. 64

Tidak ada komentar: